SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Suasana senja di kawasan Titik Nol Kota Singaraja kini terasa berbeda.
Jika sebelumnya area bersejarah itu tampak redup saat malam tiba, kini cahaya puluhan lampu pedestrian membuat wajah pusat kota tua tersebut kembali hidup.
Pemkab Buleleng secara resmi menyalakan lampu-lampu kawasan Titik Nol Singaraja pada Selasa (23/6/2026) pukul 18.00 WITA.
Momen itu sekaligus menjadi penanda hampir rampungnya penataan salah satu ikon baru Kota Singaraja.
Sebanyak 75 lampu pedestrian dan 10 unit penerangan jalan umum kini berdiri menghiasi kawasan tersebut.
Kehadirannya bukan sekadar sebagai sumber penerangan, tetapi juga memperkuat estetika dan kenyamanan ruang publik yang belakangan semakin ramai dikunjungi masyarakat.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengatakan pemasangan lampu merupakan bagian dari tahapan akhir penataan kawasan Titik Nol yang saat ini telah mencapai sekitar 90 persen.
“Ini kan baru 90 persen progresnya. Kami mencoba lampu, astungkara berjalan lancar,” ujarnya.
Menyalanya lampu-lampu tersebut langsung mengubah atmosfer kawasan pada malam hari.
Cahaya hangat yang memantul di sepanjang trotoar menghadirkan suasana yang lebih hidup dan nyaman bagi warga yang datang untuk berjalan santai, berolahraga, maupun sekadar menikmati suasana kota.
Tak sedikit masyarakat yang mulai membandingkan wajah baru Titik Nol Singaraja dengan kawasan Malioboro di Yogyakarta.
Dari pantauan di lapangan, kawasan tersebut tampak dipadati warga sejak sore hingga malam hari.
Aktivitas masyarakat yang menikmati ruang publik itu membuat suasananya semakin mirip dengan kawasan wisata perkotaan yang menjadi ikon Yogyakarta tersebut.
Namun demikian, Pemkab Buleleng memastikan identitas lokal tetap menjadi ciri utama dalam desain kawasan tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Kawasan Permukiman (PU-Perkim) Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, menjelaskan lampu yang dipasang merupakan lampu khusus untuk jalur pedestrian dengan desain yang memadukan nuansa klasik dan karakter khas Buleleng.
Menurutnya, meski sekilas menghadirkan kesan seperti kawasan pedestrian di Yogyakarta, desain lampu tetap mengusung identitas daerah melalui ornamen Patra Singa Majapahit dengan dominasi warna hijau dan emas.
“Artinya apa? Hijau itu melambangkan kemakmuran dan kesuburan. Sedangkan emas melambangkan kejayaan. Ini menjadi harapan dan doa agar Buleleng semakin maju dan jaya ke depannya,” jelasnya.
Adiptha menambahkan, sistem penerangan yang digunakan masih menggunakan jaringan listrik konvensional. Pilihan itu diambil karena dinilai lebih efektif dibandingkan panel surya.
Menurutnya, penggunaan lampu tenaga surya dikhawatirkan tidak mampu menghasilkan pencahayaan optimal sepanjang malam, mengingat daya tahannya rata-rata hanya sekitar delapan jam.
Dengan lampu yang kini telah menyala, kawasan Titik Nol Singaraja diproyeksikan menjadi salah satu ruang publik favorit masyarakat.
Tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga destinasi wisata kota yang mampu menghidupkan kembali pesona kawasan bersejarah di jantung Kota Singaraja. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya