SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Di balik deru modernisasi, Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, masih menggeliat menjaga warisan leluhurnya.
Kerajinan saab mute—tutup saji tradisional berbahan dasar daun lontar (ental), kain beludru, dan manik-manik (mute)—tetap bertahan sebagai denyut kebudayaan sekaligus penopang ekonomi warga lokal.
Perbekel Desa Nagasepaha, I Wayan Sumeken, menegaskan bahwa saab mute bukan sekadar alat perlengkapan sarana upacara Hindu, melainkan identitas utama desa yang kini diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
”Ini ikon kita. Kami ingin saab mute menjadi identitas kuat Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda,” tegas Sumeken saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Sumeken mengisahkan, keterampilan memproduksi saab mute merupakan keahlian yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada dekade 1990-an, hampir seluruh perempuan di Desa Nagasepaha mahir merangkai kerajinan tersebut. Semua dikerjakan di sela-sela waktu mengasuh anak dan mengurus rumah tangga.
Namun, memasuki era 2000-an, keberadaan pengrajin mulai menyusut dramatis.
Meningkatnya taraf pendidikan generasi muda yang melanjutkan studi ke jenjang SMA hingga perguruan tinggi membuat pilihan profesi anak muda makin beragam.
Keterampilan membuat saab mute pun perlahan mulai ditinggalkan generasi penerus.
”Yang masih bertahan saat ini biasanya ibu-ibu rumah tangga yang membuat saab mute usai menyelesaikan pekerjaan rumah untuk menambah pemasukan keluarga,” imbuhnya.
Guna mencegah kepunahan, Pemdes Nagasepaha menggandeng kampus dan Dinas Terkait melalui program pelatihan, kajian, hingga pendampingan usaha.
Bahkan, fungsi saab mute kini bertransformasi tidak hanya untuk upacara adat, tetapi juga dikembangkan menjadi produk dekorasi harian, hiasan dinding, hingga tudung saji modern.
Harganya pun amat terjangkau, dibanderol mulai dari Rp 25 ribu hingga ratusan ribu rupiah tergantung kerumitan motif.
Salah satu pengrajin yang setia bertahan adalah Kadek Puniantari. Ia menekuni pembuatan saab mute sejak tahun 2008 sambil membesarkan buah hatinya. Dalam sehari, Puniantari mampu merangkai dua hingga tiga buah saab.
Meski demikian, Puniantari mengaku tantangan pengrajin tradisional saat ini makin berat akibat melambungnya harga bahan baku seperti daun lontar, kain beludru, dan mute, yang tidak sebanding dengan harga jual di pasaran.
”Kendalanya di harga bahan baku yang terus naik, sementara harga jual kerajinan dituntut tetap murah karena harus bersaing dengan produk luar. Saya berharap saab mute Nagasepaha bisa makin dikenal luas agar pasarnya makin besar,” tutur Puniantari. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng