SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Pesta Kesenian Bali (PKB) Tahun 2024 baru akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang. Meski masih hitungan bulan, persiapan harus dilakukan agar tampil dengan matang.
Pada PKB 2024, Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya mendapat kehormatan tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre.
Sekaa gong yang berbasis di Lingkungan Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng itu akan jadi Duta Kabupaten Buleleng untuk kategori gong kebyar legendaris.
Sekaa Gong Eka Wakya ditunjuk mengikuti kategori gong kebyar legendaris, setelah melalui sejumlah pertimbangan.
Sekaa gong tersebut merupakan salah satu sekaa gong tertua yang ada di Buleleng. Sekaa gong tersebut diyakini telah ada pada tahun 1917 silam.
Bukan hanya itu saja, Sekaa Gong Eka Wakya masih eksis hingga kini. Sekaa gong juga sukses melakukan regenerasi penabuh.
Para penabuh senior pun masih eksis hingga kini. Mereka turut terlibat dalam pembinaan pada anak-anak di Banjar Paketan yang tertarik dengan seni karawitan.
Pembina Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya, I Gede Arya Setiawan mengatakan, tidak ada catatan resmi yang menyebut tanggal berdirinya Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya.
Namun berdasarkan cerita turun temurun, Sekaa Gong Eka Wakya sudah pernah melakukan lawatan budaya ke Pulau Lombok pada tahun 1917 silam.
Catatan tertulis terkait Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya baru ditemukan pada tahun 1926 silam.
Saat itu punggawa Distrik Buleleng, Gusti Ketut Kaler menunjuk Pan Sasih sebagai inisiator dan Pembina Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya. Penunjukan dilakukan lewat Surat Nomor 68 Tahun 1926.
Sebagai sebuah sekaa gong legendaris, penabuh-penabuh di Sekaa Eka Wakya juga pernah dibina oleh para penabuh terkenal pada masanya.
Sebut saja nama Pan Wadres, maestro karawitan asal Desa Jagaraga yang juga ikut menciptakan Tari Truna Jaya bersama Gde Manik.
Selain itu ada nama Gede Mendra. Dia merupakan seniman karawitan tulen dari Banjar Paketan. Mendra juga disebut-sebut sebagai pesaing dari maestro gong kebyar Gde Manik dari dangin enjung dan Ketut Merdana dari dauh enjung. Hanya saja nama Mendra kalah terkenal dibandingkan dua orang pesaingnya.
Selain itu pendiri Konservatori Karawitan (Kokar) Bali, I Gusti Bagus Pandji juga sempat ambil bagian melakukan pembinaan di Banjar Paketan.
Masa keemasan Eka Wakya bisa dibilang terjadi pada warsa 1960-an. Tatkala itu Sekaa Gong Eka Wakya dibina oleh Mayor I Gusti Made Kerta.
“Dulu pernah dapat hadiah panggul ugal emas dan panggul terompong emas sebagai pemenang lomba. Selain itu juga tercatat empat kali tampil di istana presiden Tampak Siring,” ungkap Arya.
Kini eksistensi Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya sudah sampai pada generasi ke-11. Pembinaan para seniman dilakukan oleh Made Pasca Wirsuta dan Arya Setiawan.
“Tetua kami secara turun temurun mengajarkan dan mengarahkan anak-anak mereka sejak kecil yang laki-laki ikut berlatih gong kebyar, yang perempuan berlatih menari. Jadi setiap ada upacara keagaman oleh salah satu warga diberikan secara gratis dengan sistem menyama braya,” katanya.
Pola tersebut membuat Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya tetap eksis hingga kini. Eksistensi itu bukan hanya terjadi pada kelompok dewasa, tapi juga terjadi pada kelompok wanita hingga anak-anak.
Selain itu Sekaa Eka Wakya juga masih melestarikan warisan tetau mereka. diantaranya penggunaan gangsa yang umumnya menggunakan 4 lungguh. Namun Eka Wakya menggunakan 8 lungguh
Hal serupa juga berlaku untuk penggunaan calung. Umumnya barung gong kebyar hanya menggunakan 2 buah calung, namun Eka Wakya menggunakan 4 buah calung.
Barung yang digunakan untuk menabuh juga merupakan peninggalan para tetua. Kalau toh ada yang rusak atau retak, langsung dibuatkan duplikat.
Jelang PKB 2024 nanti, Arya Setiawan menyatakan Sekaa Gong Eka Wakya sudah menyiapkan sejumlah materi garapan.
Diantaranya tabuh kreasi Dwikora yang tercipta pada tahun 1930 silam. Tabuh ini sempat diaransemen ulang oleh Mayor Kerta, hingga membawa Sekaa Gong Eka Wakya pentas di Istana Tampak Siring pada masa kerjasama Indonesia-Malaysia.
Adapula Tari Subali-Sugriwa yang juga diilhami Gde Manik dan kemudian disempurnakan kembali pada masa pembina I Made Keranca.
Sementara garapan ketiga adalah Tari Gelatik. Tarian itu diminta oleh guru besar ISI Denpasar, yakni Prof. I Made Bandem, serta Prof. I Wayan Rai yang baru tutup usia.
“Ini sebagai penghormatan kami kepada Prof Rai, bagaimanapun juga Tari Gelatik salah satu tabuh andalan yang membuat Eka Wakya terkenal,” ujarnya.
Sementara tabuh keempat adalah tabuh tua alias tabuh lelambatan khas Buleleng. Karakteristik tabuh ini sangat berbeda dengan tabuh lelambatan ala Bali Selatan.
Di Bali Selatan, tabuh lelambatan lazimnya dibawakan secara lembut dan perlahan. Namun tabuh lelambatan Bali Utara tetap dimainkan secara enerjik, namun tetap manis didengar. (*)
Editor : Eka Prasetya