Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Diskusi Gambelan Bukan Musik: Tabuh Bukan Hanya Soal Hobi, Tapi Juga Bakti

Eka Prasetya • Senin, 22 Januari 2024 - 00:47 WIB

BAHAS GAMBELAN: Suasana bertajuk Diskusi Gambelan Musik yang digelar Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu STAHN Mpu Kuturan.
BAHAS GAMBELAN: Suasana bertajuk Diskusi Gambelan Musik yang digelar Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu STAHN Mpu Kuturan.
 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Tabuh gambelan bukan hanya persoalan musik. Dalam konteks masyarakat Bali, megambel juga bagian dari aspek spiritual.

Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk Gambelan Bukan Musik yang berlangsung di Kedai Umah Pradja, pada Jumat (19/1/2024) lalu.

Agenda tersebut digelar Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu, pada Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan.

Dalam diskusi tersebut, Dosen pada STAHN Mpu Kuturan, Kadek Anggara Rismandika menyatakan bahwa megambel merupakan sebuah keperluan batin bagi seorang seniman.

Menurutnya saat hari raya tiba, maka permintaan untuk ngayah megambel di desa akan datang. Tanpa diduga, tenaga para seniman seolah terisi ulang secara otomatis.

“Saat megambel mereka akan senang. Istilah Bali disebut ngaat-ngaatan,” ujarnya.

Anggara mengungkapkan, pada masa lalu, seniman bukan dari kalangan terdidik. Mereka bukan berasal dari sanggar atau sekolah seni.

Mereka adalah para buruh dan petani yang menyempatkan waktu untuk megambel. Sehingga megambel juga menjadi sebuah hobi.

Setelah lama berlatih, tentu panggung pementasan menjadi hal yang dinanti.

Mereka punya kesempatan tampil dengan pakaian terbaru serta membawakan tabuh dengan garapan prima.

“Saat pentas, stress berkurang, rasa bahagia muncul, kepuasan dalam diri seniman akan berbeda,” ungkap Anggara.

Ia juga menyebut gambelan dan musik merupakan hal yang jauh berbeda. Gambelan hanya bisa dimainkan pada momen tertentu. Berbeda dengan musik yang bisa dimainkan kapan saja dan dimana saja.

“Dalam kebudayaan Bali karawitan masih digunakan dalam berbagaikegiatan yang berkaitan dengan ritual agama,” ujarnya.

Sementara itu  musisi cum budayawan, Gigih Alfajar menilai gambelan lebih dari sekadar musik.

Gambelan bukan hanya sekadar bunyi. Tapi ada dimensi spiritual dan filosofis di dalamnya.

Pria yang juga etnomusikolog itu menilai, pada masyarakat Bali, gambelan  menjadi sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal itu melampaui musik konvensional pada umumnya.

Gigih juga menyebut bahwa gambelan memiliki makna sosial yangmendalam, bukan hanya bunyi-bunyian.

Gambelan menekankan pentingnya memahami posisigamelan antara kegiatan spiritual dan edukasi.

“Hal ini diharapkan dapat menjaga keterhubunganpengetahuan antara objek dan orang yang membutuhkan tanpa mengalami putusnya tali kesakralan,” ujar Gigih. (*)

Editor : Eka Prasetya
#bali #musik #gambelan #STAHN Mpu Kuturan