Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Konsisten Tema Pewayangan, ST. TTTM Kalong Buat Ogoh-ogoh Dina Kala Paksa, Dramatiskan Sayap, Gunakan Bulu Ayam Bekas Tajen

Francelino Junior • Sabtu, 9 Maret 2024 | 16:21 WIB

 

Ogoh-ogoh Dina Kala Paksa dari ST. TTTM Kalong. Uniknya, pada sayap bagian belakang mereka gunakan bulu ayam bekas tajen.
Ogoh-ogoh Dina Kala Paksa dari ST. TTTM Kalong. Uniknya, pada sayap bagian belakang mereka gunakan bulu ayam bekas tajen.

SINGARAJA-Sekaa Teruna Teruni Tunas Teratai Tunjung Mekar (ST. TTTM) Banjar Dinas Kajekangin-Ceblong (Kalong), Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng membuat ogoh-ogoh dengan tema pewayangan.

Edisi Nyepi 1946/2024 kali ini, mereka membuat ogoh-ogoh Dina Kala Paksa. 

Ketua ST. TTTM Kalong, Made Anom Krisma Hardiana mengatakan bila mereka selalu konsisten mengangkat tema pewayangan dalam membuat ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh Dina Kala Paksa ini dibuat setelah melakukan penelusuran cerita pewayangan, kemudian dipilih tema mengenai tumpek wayang. 

Ia mengatakan bila tumpek wayang merupakan pertemuan sapta wara saniscara, pancawara kliwon, dan wuku sayang.

Sehingga pertemuan ketiga unsur ini merupakan hari baik untuk menetralisir unsur buruk.

Sementara dina kala paksa merupakan satu hari sebelum tumpek wayang, yang mana manusia biasanya memasang seselat atau sesuwuk yang bertujuan juga sebagai simbol atau perantara menetralisir unsur buruk. 

Hal inilah yang kemudian mereka adopsi dalam ogoh-ogoh dengan tinggi 5 meter, lebar 4 meter, dengan berat 200 kilogram.

Tidak hanya satu objek saja, melainkan ogoh-ogoh Dina Kala Paksa ST. TTTM Kalong ada tiga objek. Satu berbentuk raksasa dan dua objek berbentuk manusia.  

"Jadi raksasa atau kala ceritanya marah karena diusir melalui sembahyang dengan sesuwuk, sehingga berontak. Satu manusia kaget dan mau kabur, satunya lagi tetap bertahan dan sembahyang meski dijambak kala," ujar pria yang akrab disapa Ajik Anom ditemui pada Jumat (8/3) siang kemarin. 

Menariknya, objek ogoh-ogoh raksasa dibuat bersayap dengan sayap yang berisi bulu ayam untuk mendramatisir bentuk sayap sesungguhnya. Bulu ayam sebanyak dua kresek merah besar, kata Ajik Anom, dibawa oleh masyarakat sepulang dari tempat sabung ayam atau tajen. 

Ia mengungkapkan, sebenarnya ogoh-ogoh raksasa itu tidak bersayap sesuai sketsa. Tetapi setelah adanya masukan dan diskusi bersama, kemudian ditambahkan sayap pada ogoh-ogoh dengan  figur wayang seperti Hanoman, Bima, hingga Arjuna pada ujung-ujung sayap. 

"Karena tema ogoh-ogoh tumpek wayang, jadi sayapnya diisi wayang-wayangan agar masuk dan sesuai. Kalau bulu ayamnya cari di tajen, karena sayap identik dengan bulu sehingga pakai bulu ayam," lanjut Ajik Anom. 

Ogoh-ogoh yang sudah menghabiskan anggaran sampai Rp 21 juta ini ternyata dibuat bergerak.

Meski tidak seheboh seperti ogoh-ogoh di Bali selatan, tetapi penempatan mesin untuk bergeraknya ogoh-ogoh membuat dramatis. Pada ogoh-ogoh Dina Kala Paksa, bagian sayap akan bergerak naik turun, juga bagian kepala yang akan bergerak ke kiri dan kanan. 

"Pakai mesin semenjak tahun 2019 lalu. Kami konsisten buat ogoh-ogoh yang bagus dan serius, mau ada lomba atau tidak ada. Ogoh-ogoh juga selalu lebih dari satu, kecuali tahun 2022 saja yang hanya satu objek," sambungnya lagi. 

Untuk diketahui, ST. TTTM Kalong dua tahun belakangan selalu masuk tiga besar Lomba Ogoh-ogoh se-Bali tingkat Kabupaten Buleleng.

Tahun 2023 lalu dengan ogoh-ogoh Amukti Kalki Awatara, mereka keluar sebagai Juara 1 tingkat Kabupaten Buleleng dan Juara 1 tingkat Kecamatan Sawan.

Di tahun 2022 dengan ogoh-ogoh Sang Hyang Kala Raksa, mereka keluar sebagai Juara 3 tingkat Kabupaten Buleleng dan Juara 1 tingkat Kecamatan Sawan. ***

Editor : Donny Tabelak
#pewayangan #tajen #nyepi #ogoh ogoh