Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Pura Campuhan Windhu Segara Padang Galak: Rujukan Lokasi Melukat Umat Hindu

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 18 Juli 2024 | 23:29 WIB

 

MELUKAT: Umat yang menjalani prosesi melukat di Pura Campuhan Windhu Segara Padang Galak, Denpasar.
MELUKAT: Umat yang menjalani prosesi melukat di Pura Campuhan Windhu Segara Padang Galak, Denpasar.

RadarBuleleng.id - Pura-pura di Bali sarat dengan getaran spiritual. Sejumlah pura memiliki ciri khas tersendiri dan dijadikan lokasi ritual tertentu, seperti melukat.

Salah satunya adalah Pura Campuhan Windhu Segara Padang Galak, yang lokasinya terletak di tepi Pantai Padang Galak.

Pura itu menjadi salah satu rujukan bagi umat Hindu di kawasan Denpasar dan sekitarnya untuk prosesi melukat.

Pengempon Pura Campuhan Windhu Segara Padang Galak, Putu Gede Putra Wijaya menuturkan, pura tersebut sebenarnya baru berdiri pada tahun 2005 silam.

Baca Juga: Keunikan Pura Indra Prasta Solo: Ada Pintu yang Tidak Boleh Dibuka

Awalnya, ayah dari Gede Wijaya bermimpi ada seseorang yang datang minta dibuatkan tempat sembahyang di tepi Pantai Padang Galak.

Orang tersebut pun menunjuk tempat khusus, yang lokasinya dekat dengan pantai dan sungai.

Semula mimpi itu hanya dianggap bunga tidur. Namun ayahnya justru memimpikan hal yang sama berulang kali.

Akhirnya ia dan keluarganya mulai membuat tempat suci dengan bahan seadanya. “Awalnya pakai bambu. Kemudian diwujudkan dengan kayu seadanya mulai tahun 2005. Sangat sederhana sekali,” ungkap Wijaya.

Baca Juga: Pura Giri Nata, Pusat Ibadah Umat Hindu di Malang Raya

Setelah membuat tempat persembahyangan, sedikit demi sedikit umat mulai berdatangan untuk melakukan persembahyangan.

Lama kelamaan umat menjadikan lokasi itu untuk prosesi melukat. Mengingat lokasinya terletak di campuhan yakni pertemuan antara sungai dan laut.

“Kalau menurut sastra kan, campuhan itu tempat yang ideal untuk melukat. Makanya banyak yang melukat di sini,” katanya.

Bahkan bukan hanya umat Hindu saja yang datang ke lokasi tersebut. Namun juga umat non-Hindu, bahkan mereka datang dari luar Bali.

Wijaya mengaku tidak pernah mempromosikan pura tersebut. Namun anehnya ada saja umat yang datang untuk naur sesangi.

“Saya tidak pernah promosi, tidak punya media juga untuk mempromosikan. Umat dari berbagai daerah datang sendiri,” katanya.

Wijaya juga menyebut tidak sedikit tokoh publik yang datang ke pura tersebut. Termasuk seorang anggota DPRD dari Batam. Ia pun tidak tahu pasti dari mana anggota DPRD itu mengetahui keberadaan pura tersebut.

Lebih lanjut Wijaya mengatakan, pura tersebut berdiri di atas lahan pemerintah. Tepatnya lagi lahan milik Pemprov Bali.

Sejak pura itu berdiri hingga kini, pemerintah tidak pernah mempermasalahkan keberadaan tempat ibadah itu. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#hindu #melukat #upacara #segara #pura