Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Implementasi Akulturasi Budaya. Atraksi Barongsai Meriahkan Piodalan di Desa Adat Galiran Buleleng

Francelino Junior • Minggu, 2 Februari 2025 | 23:02 WIB

 

MERIAH: Atraksi barongsai di jaba sisi Pura Desa Adat Galiran, beberapa waktu lalu.
MERIAH: Atraksi barongsai di jaba sisi Pura Desa Adat Galiran, beberapa waktu lalu.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Akulturasi budaya benar-benar terasa dalam rangkaian piodalan di Pura Desa Adat Galiran, Buleleng.

Akulturasi itu terasa dengan adanya hiasan lampion di sepanjang Jalan Laksamana, Desa Baktiseraga.

Bahkan dalam rangkaian piodalan, juga diisi dengan atraksi barongsai di jaba sisi Desa Adat Galiran, Buleleng.

Atraksi itu berlangsung pada Jumat (31/1/2025) malam. Kelompok barongsai memulai aksinya sekitar pukul 20.00 Wita. 

Akulturasi budaya itu terlaksana, sebagai bentuk persembahan warga keturunan Tionghoa yang mukim di wewidangan Desa Adat Galiran.

Atraksi barongsai dihadirkan, tanpa mengesampingkan makna utama dalam rangkaian piodalan di Pura Desa Adat Galiran.

Tokoh masyarakat setempat, Gede Karang Sadnyana menuturkan, atraksi itu merupakan persembahan dari keluarga besar Oei Cukwan.

Baca Juga: Berkah Imlek, Mainan Barongsai Laris Manis

Persembahan itu semata-mata sebagai bentuk terima kasih kepada krama di Desa Adat Galiran, yang telah merangkul keluarga mereka dalam aktivitas kemasyarakatan hingga adat.

”Ini sebagai wujud rasa terima kasih keluarga kami, karena diterima dengan baik di Desa Adat Galiran. Ini murni yadnya, ngaturang seni barongsai sebagai hiburan dalam rangka piodalan. Apalagi ini pertama kali momennya bersamaan dengan Tahun Baru Imlek,” ujar Jro Karang.

Karang menuturkan, keluarga besar Oei Cukwan pertama kali menginjakkan kaki di Singaraja pada tahun 1920. Kala itu mereka datang dari Kalimantan.

Saat pertama kali sampai di Buleleng, ada beberapa keluarga besar. Mereka kemudian berpencar. Ada yang tinggal di Kota Singaraja hingga di Kubutambahan.

Oei Cukwan lalu berjualan kopra (kelapa), rempah, dan hasil bumi sampai ke Desa Adat Galiran. 

Oei Cukwan kemudian bertemu dengan tokoh spiritual Desa Adat Galiran yakni Jro Made Karang. Pertemuan itu membuat Oei Cukwan menikah dengan Ni Made Suati yang merupakan anak dari tokoh spiritual tersebut.

Dari pernikahan itu, Oei Cukwan dan Ni Made Suati dikaruniai lima orang anak. Mereka adalah Oei So Tien, Oei So Ling, Oei So Hun, Oei Lam Cuan, dan Oei So Kyu. 

Kini yang masih mukim di Desa Adat Galiran adalah Oei Lam Cuan. Dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari Oei Cukwan yang kini menikah dengan krama setempat.

”Dari kakek saya, sudah menetap dan ikut ngayah seperti krama desa adat pada umumnya. Keturunan ada sekitar 50 orang, tinggal dan aktif di sini. Generasi ketiga sudah tidak ada pakai nama Tionghoa lagi, pakai nama Bali,” lanjut Karang Sadnyana yang merupakan cucu dari Oei Cukwan.

Menurutnya, ide menghaturkan  sesolahan barongsai itu tebersit begitu saja. Sebab piodalan agung di Pura Desa Adat Galiran, berdekatan dengan Tahun Baru Imlek.

Bahkan puncak piodalan sama-sama jatuh pada Rabu (29/1/2025) yang notabene Tahun Bari Imlek.

Lebih lanjut Karang mengatakan, sebelum menghaturkan sesolahan barongsai, pihaknya berkoordinasi lebih dulu dengan tokoh desa adat dan prajuru desa adat.

Hasilnya, para tokoh menyetujui sesolahan tersebut. Sepanjang hanya dipentaskan di jaba sisi pura.

”Kami merasa terhormat diterima dengan baik di sini. Pementasan barongsai kami batasi juga, sampai di jaba pura saja,” sambungnya.

Sementara itu, Kelian Desa Adat Galiran, Jro Putu Anteng mengatakan, pementasan barongsai dan pemasangan lampion di sekitar Pura Desa Adat Galiran tidak mengurangi makna dari piodalan agung di wilayahnya.

Malahan, ini merupakan gambaran toleransi yang ada di Kota Singaraja khususnya di Desa Adat Galiran. 

Bahwa krama di Desa Adat Galiran menjunjung tinggi nilai toleransi. Termasuk mengedepankan semangat kebersamaan dan keharmonisan.

”Sudah dikoordinasikan dengan prajuru desa adat, krama juga tidak masalah karena ini momen yang bersamaan (piodalan dan Imlek). Jadi sekalian memeriahkan piodalan agung. Tanpa mengurangi makna dari piodalan itu sendiri,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Tahun Baru Imlek 2024 #tionghoa #Desa adat #barongsai #buleleng #galiran #imlek 2018