Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Warga Buleleng Rayakan Pagerwesi dengan Meriah. Ziarah Hingga “Munjung” di Setra

Eka Prasetya • Rabu, 12 Februari 2025 | 19:22 WIB

 

MERAYAKAN PAGERWESI: Salah seorang krama di Desa Adat Buleleng mendatangi Taman Makan Pahlawan curastana untuk ziarah.
MERAYAKAN PAGERWESI: Salah seorang krama di Desa Adat Buleleng mendatangi Taman Makan Pahlawan curastana untuk ziarah.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Pagerwesi menjadi hari yang amat sibuk bagi umat Hindu di Bali Utara, khususnya di Kabupaten Buleleng. 

Sejak pagi umat sudah sibuk dengan berbagai prosesi persembahyangan. Mulai dari sanggah keluarga, pura kahyangan tiga, maupun areal pekuburan.

Seperti yang terlihat di Pura Dalem Desa Adat Buleleng pada Rabu (12/2/2025). 

Sejak pukul 06.00 pagi, umat satu persatu berdatangan melakukan persembahyangan. 

Biasanya umat datang ke Pura Dalem setelah menuntaskan persembahyangan di pura-pura keluarga.

Selanjutnya umat akan datang ke areal pekuburan. Baik itu di setra desa adat maupun di Taman Makam Pahlawan Curastana. 

Di Taman Makam Curastana, umat akan menghaturkan banten di pusara para pejuang.

Salah satu yang berkunjung ke sana adalah Putu Arsa Suyasa, warga Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng. Arsa mendatangi pusara pahlawan Nyoman Suka. 

Mendiang Nyoman Suka merupakan salah seorang pejuang yang gugur pada perjuangan revolusi pada 1948 silam.

Arsa menuturkan, sang paman dulunya adalah petugas penghubung. Dia punya kewajiban membawa surat maupun perintah dari pemimpin perjuangan. Namun sang paman tutup usia karena ditembak penjajah. 

“Dia ditembak di sebelah timur Monumen Bhuana Kerta,” ujar Arsa.

Setiap hari raya Pagerwesi dia rutin datang ke Curastana. “Biasanya sama istri dan keponakan. Saya sudah dari kecil rutin ke sini, jadi sudah kebiasaan. Selain Pagerwesi, Galungan dan 17 Agustus ya pasti kesini juga,” ceritanya.

Suasana ramai juga terlihat di Setra Desa Adat Buleleng. Khususnya di wewidangan setra yang dikelola Banjar Adat Pakraman Banjar Jawa. 

Krama mendatangi pusara-pusara yang ada di areal pekuburan. Krama menghaturkan banten munjung di pusara tersebut. 

Krama juga membawa berbagai hidangan. Mulai dari tipat, telur, daging ayam, hingga minuman ringan.

Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna mengungkapkan, tradisi munjung rutin dilaksanakan krama. Terutama krama di Desa Adat Buleleng. 

Tradisi itu selalu dilaksanakan tiap hari raya Galungan, dan akan lebih ramai lagi saat hari raya Pagerwesi. 

Menurutnya tradisi itu dilakukan oleh krama karena masih memiliki keluarga yang dikubur di setra.

Dari tahun ke tahun, tradisi itu rutin dilaksanakan krama di Banjar Jawa. “Karena mereka memang punya tradisi haru mendem ring pertiwi dulu. Makanya krama dari Banjar Jawa yang paling banyak munjung,” ungkapnya.

Untuk menata areal pekuburan, desa adat telah membuat petak-petak khusus berukuran 2x3 meter. Untuk sementara petak-petak itu ditanami rumput. 

Bila ada krama yang meninggal, petak tersebut bisa langsung digali untuk pekuburan. Lalu di atasnya dapat didirikan gumuk atau pusara.

“Nanti kalau sudah lewat upacara ngaben, kami minta bongkar gumuk-nya. Supaya krama lain juga bisa menggunakan. Karena prosesi upacaranya kan sudah selesai,” imbuhnya.

Lebih lanjut Sutrisna mengungkapkan, kendati kini upacara ngaben massal dari krematorium sudah menjamur, dia yakin tradisi munjung tetap ajeg. Sebab tidak semua krama mampu melaksanakan upacara ngaben, entah itu tingkatan alit, madya, maupun utama.

“Selain dari Banjar Jawa, ada juga semeton yang dari Banjar Paketan, Delod Peken, dan Kaliuntu masih mendem di setra. Ada yang  belum punya biaya, menunggu keluarga besar kumpul, ada juga yang menunggu jadwal ngaben massal di desa adat,” demikian Sutrisna. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#hari raya #Desa adat #pagerwesi #buleleng