Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Sekaa Truna di Sambangan Angkat Tema Ratu Wong Samar. Sampaikan Pesan Jaga Lingkungan

Francelino Junior • Selasa, 25 Februari 2025 | 01:18 WIB

 

SARAT MAKNA: Proses pengerjaan ogoh-ogoh Ratu Wong Samar oleh STT Abdi Yowana. Ada pesan mendalam yang disampaikan dalam ogoh-ogoh ini.
SARAT MAKNA: Proses pengerjaan ogoh-ogoh Ratu Wong Samar oleh STT Abdi Yowana. Ada pesan mendalam yang disampaikan dalam ogoh-ogoh ini.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol ataupun sekedar memeriahkan perayaan Hari Suci Nyepi. Ogoh-ogoh juga menjadi media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat terkait isu kekinian.

Seperti yang dilakukan oleh Sekaa Truna Truni (STT) Abdi Yowana dengan ogoh-ogoh Ratu Wong Samar.

STT yang bermarkas di Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng itu, membuat ogoh-ogoh dengan tema Ratu Wong Samar.

Lewat ogoh-ogoh itu, mereka menyampaikan pesan terkait dengan keselarasan hidup dengan alam dan dunia gaib. Sebab rasa hormat terhadap makhluk hidup hingga yang tidak terlihat, sangat dijunjung tinggi masyarakat Bali.

”Tema ogoh-ogoh ini kami angkat, untuk memperingatkan manusia agar tidak sembarangan bertindak di tempat-tempat yang dianggap sakral,” ujar Ketua Panitia Ogoh-Ogoh STT Abdi Yowana, Komang Angga Tri Wardana, kemarin (23/2/2025).

Ogoh-ogoh tersebut telah dibuat sejak Minggu (12/1/2025). Kini proses pengerjaan sudah mencapai 75 persen. 

Dalam pembuatannya, karya seni tersebut memiliki tinggi tiga meter dengan lebar 1,5 meter. Bahan pengerjaan menggunakan bahan bambu dan koran bekas. 

Baca Juga: Tegas! Parade Ogoh-Ogoh Tidak Boleh Pakai Sound Horeg

Dijelaskan secara singkat, Ratu Wong Samar muncul dari berbagai cerita. Awalnya karena adanya kutukan dari Dang Hyang Nirartha, pendeta brahmana dari masa Majapahit. Tahun 1489, bersama dengan istri dan tujuh orang anaknya, Dang Hyang Nirartha menyebrang dari Pulau Jawa ke Bali.

Sesampainya di wilayah Bali utara, rombongan ini mengalami musibah. Yakni putri sulung  Dang Hyang Nirartha, yaitu Dyah Swabhawa dianiaya di sebuah desa tua. Dang Hyang Nirartha lalu marah dan mengutuk warga desa tersebut, menjadi manusia yang tidak terlihat alias wong samar.

Dari kemarahannya itu juga, sang pendeta bahkan membakar habis desa itu dengan kekuatan saktinya. Disebutkan dalam cerita, Dang Hyang Nirartha kemudian mengangkat anak sulungnya yaitu Dyah Swabhawa menjadi pemimpin wong samar di Bali. 

Lewat ogoh-ogoh itu, para pemuda ingin menyampaikan pesan ke masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Karena menjaga lingkungan merupakan bentuk penghormatan terhadap makhluk hidup lainnya, baik sekala maupun niskala.

”Membuang sampah pada tempatnya menjadi salah satu bentuk menjaga lingkungan. Apalagi pemerintah saat ini, utamanya di Bali, tengah menggalakan pengurangan plastik sekali pakai,” kata Angga. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#ogoh-ogoh #sekaa truna #nyepi #buleleng