Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tradisi Lebaran Ketupat di Pegayaman: Syukur, Silaturahmi, dan Sajian Khas

Eka Prasetya • Rabu, 9 April 2025 | 00:50 WIB

 

LEBARAN KETUPAT: Suasana perayaan lebaran ketupat di Masjid Jamik Safinatussalam, Desa Pegayaman, Buleleng.
LEBARAN KETUPAT: Suasana perayaan lebaran ketupat di Masjid Jamik Safinatussalam, Desa Pegayaman, Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Masyarakat muslim di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, melangsungkan lebaran ketupat pada Senin (7/4/2025).

Umat Muslim di desa tersebut merayakan lebaran ketupat di Masjid Jamik Safinatussalam. Perayaan itu berlangsung khidmat sekaligus penuh kekeluargaan.

Tradisi tahunan ini dimulai sejak pukul 05.30 Wita, sesaat setelah shalat Subuh. Diawali dengan pembacaan Kitab Aqidatul Awam secara berjamaah yang dipimpin oleh Penghulu atau Imam Desa Pegayaman, TGH Abdul Ghofar Ismail. 

Usai pembacaan kitab, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama sebagai bentuk syukur atas nikmat Ramadan dan Idul Fitri.

"Lebaran Ketupat ini dirayakan setiap tanggal 8 Syawal, sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang menunaikan puasa sunnah Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri," ujar Alman Rahadi, salah satu pengurus Masjid.

Alman menjelaskan, momen ini juga menjadi ajang berbagi melalui tradisi sedekah ketupat. 

Baca Juga: Hangatnya Tradisi Lebaran Ketupat di Kampung Jawa Buleleng: Megibung dan Kue Bantal Jadi Simbol Syukur Usai Puasa Syawal

Aneka hidangan khas seperti ketupat berkuah santan yang disebut "gorengan" disajikan bersama kelapa parut sangrai berwarna kuning dari kunyit. 

Menu tersebut dihidangkan sebagai wujud syukur para ibu-ibu Pegayaman. Selanjutnya hidangan disantap bersama jamaah masjid.

Uniknya, meski puasa sunnah Syawal masih dijalankan, banyak warga kini menunda pelaksanaannya demi menjaga suasana silaturahmi. 

"Biasanya puasa dijalankan setelah Lebaran Ketupat, karena dalam masa Idulfitri ini banyak kunjungan. Kurang pas rasanya kalau menjamu tamu tapi sedang puasa," imbuh Alman.

Lebih lanjut Alman menjelaskan, pembacaan Kitab Aqidatul Awam menjadi tradisi yang tidak bisa ditinggalkan dalam lebaran ketupat.

“Penghulu membacakan langsung teks Arab-nya, seperti yasinan. Penjelasannya nanti di forum lain,” terang Alman.

Pemerhati sejarah lokal Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto menambahkan, kitab tersebut dibacakan pada momen-momen khusus.

Selain saat lebaran ketupat, Kitab Aqidatul Awam juga dibacakan saat acara subak, seperti mapag toye. Pembacaan dilakukan sebagai bentuk syukur atas panen dan penolak bala. 

“Makanya, warga dari anak-anak sampai dewasa banyak yang hafal,” ungkap penulis buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman ini.

Soal kuliner, Suharto menjelaskan, ketupat yang disuguhkan terdiri dari dua jenis: ketupat bekal dan ketupat lepas. 

Ketupat bekal berukuran besar, simbol doa untuk kelapangan rezeki. Sementara ketupat lepas dibuat kecil, dianyam dengan janur berbentuk angka delapan sebagai simbol harapan terhindar dari bencana.

“Ketupat disantap dengan lauk khas seperti opor ayam, sayur, serta sambel nyuh atau serundeng basah khas Pegayaman,” tutup Suharto. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#pegayaman #masjid #muslim #ramadan #kitab #Lebaran Ketupat #subak #idul fitri #gorengan #tradisi #buleleng