RadarBuleleng.id – Bagi perempuan Hindu, datang bulan kerap memunculkan pertanyaan: apakah boleh sembahyang saat menstruasi? Apalagi ketika ada upacara penting di pura, banyak yang bingung—ikut atau tidak?
Ternyata, aturan soal ini sudah lama ada dalam ajaran Hindu. Bukan mitos. Bukan juga soal diskriminasi.
Larangan ini berakar dari konsep “cuntaka”. Cuntaka adalah kondisi seseorang yang dianggap belum suci secara lahir dan batin, misalnya karena melahirkan, kematian, atau menstruasi.
Menurut Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), perempuan yang sedang menstruasi memang disarankan tidak masuk area suci seperti pura atau sanggah. Tapi bukan berarti mereka tidak boleh sembahyang sama sekali.
“Perempuan yang sedang haid tetap bisa sembahyang, tapi dengan cara yang berbeda. Jalur pemujaannya lebih ke internal,” jelas Ketua PHDI Bangli, I Nyoman Sukra sebagaimana dikutip dari JawaPos.com pada Rabu (9/4/2025).
Dalam ajaran Hindu, ada dua jalur pemujaan: Prawerti Marga (eksternal, seperti ke pura) dan Niwerti Marga (internal, seperti doa dalam hati atau manasa japa). Nah, saat haid, perempuan disarankan memilih jalur Niwerti Marga.
Mereka bisa tetap melaksanakan Tri Sandhya, doa harian umat Hindu, dari kamar pribadi, tempat kerja, atau ruang kelas. Jadi tetap bisa menjalankan kewajiban spiritual tanpa harus ke tempat suci.
Baca Juga: Ulah Pati dalam Pandangan Hindu: Bukan Jalan Keluar, Justru Tambah Derita
Lalu, kenapa tidak boleh ke pura? PHDI menjelaskan, bukan karena darah haid najis, tapi karena tubuh sedang tidak stabil—baik secara fisik maupun emosional.
Kondisi ini bisa mengganggu vibrasi kesucian di pura dan mengganggu kekhusyukan orang lain yang sedang sembahyang.
“Menjaga kesucian pura itu tanggung jawab bersama. Kalau tubuh dan batin tidak seimbang, lebih baik sembahyang dari tempat pribadi,” ujar Sukra.
Pesan utamanya jelas: menstruasi bukan halangan untuk berdoa atau mendekatkan diri pada Hyang Widhi.
Justru saat tubuh dan hati sedang tidak stabil, umat dianjurkan untuk lebih banyak berdoa agar mendapat ketenangan.
Jadi, buat remaja putri dan perempuan Hindu lainnya, tidak perlu merasa “jauh dari Tuhan” saat haid. Pahami ajaran, jalani dengan kesadaran. Karena Tuhan hadir di mana saja, tidak hanya di pura.
“Yang penting bukan tempatnya, tapi hatinya,” tandas Nyoman Sukra. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya