Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tradisi Malaidinan, Cara Unik Anak-Anak Kampung Jawa Tabanan Rayakan Idul Adha

Juliadi Radar Bali • Senin, 9 Juni 2025 | 17:42 WIB

 

LESTARIKAN TRADISI: Tradisi Malaidinan yang dilakukan umat muslim Kampung Jawa, Tabanan.
LESTARIKAN TRADISI: Tradisi Malaidinan yang dilakukan umat muslim Kampung Jawa, Tabanan.

RadarBuleleng.id – Suasana Hari Raya Idul Adha di Kampung Jawa Banjar Dinas Tunggal Sari, Desa Dauh Peken, Kabupaten Tabanan, Bali, selalu terasa istimewa. 

Selain pelaksanaan sholat Ied dan penyembelihan hewan kurban, umat Muslim di kampung ini masih melestarikan sebuah tradisi unik yang dikenal dengan nama Malaidinan.

Tradisi ini rutin digelar usai salat Idul Adha dan juga Idul Fitri. Pada Jumat (6/6/2025) lalu, puluhan anak-anak tampak antusias mengikuti tradisi ini.

Mereka berkeliling kampung dari rumah ke rumah sambil berjalan kaki, melantunkan takbir, tahlil, sholawat, hingga doa-doa penyejuk hati.

Setelah doa selesai dibacakan, pemilik rumah akan menyambut mereka dengan sukacita. 

Anak-anak diberi aneka jajanan, minuman segar, hingga uang saku sebagai bentuk terima kasih atas doa-doa yang telah dipanjatkan.

“Meski kadang anak-anak berebut makanan atau uang, suasananya tetap meriah dan penuh keceriaan,” ujar Ustadz Bukhari, salah satu tokoh masyarakat sekaligus pengajar di Pesantren An Nur Tabanan, pada Minggu (8/6/2025).

Menurutnya, tradisi Malaidinan sudah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari perayaan hari raya di Kampung Jawa. 

Nama Malaidinan sendiri merupakan pelafalan lokal dari kalimat Minal Aidin wal Faizin, yang dimodifikasi agar lebih mudah diucapkan.

Malaidinan juga bermakna mempererat tali silaturahmi antar warga, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan sejak anak-anak.

“Makna utamanya adalah menjaga silaturahmi antar umat. Bukan soal berapa banyak jajan atau uang yang didapat, tapi bagaimana anak-anak ini menanamkan rasa kebersamaan sejak kecil,” jelas Ustadz Bukhari.

Sebelum berkeliling, anak-anak diberi pengarahan untuk tetap menjaga etika saat bertamu ke rumah warga. 

Biasanya, seorang pemuda kampung akan ditunjuk memimpin doa dalam setiap kunjungan. 

Tradisi dimulai sejak pukul 09.00 WITA dan bisa berlangsung hingga menjelang waktu magrib.

Respons warga pun sangat positif. Bahkan, ada yang merasa kecewa jika rumahnya terlewat dan tidak sempat dikunjungi anak-anak. 

“Kalau tidak ada Malaidinan, rumah terasa sepi. Kehadiran anak-anak yang datang membawa doa justru menambah semarak hari raya,” kata Ustadz Bukhari.

Tak hanya kue dan minuman, sebagian warga yang mampu juga memberikan amplop kecil berisi uang pecahan Rp2.000 hingga Rp10.000. 

Namun, semangat berbagi ini tetap dilandasi rasa keikhlasan dan niat untuk menjaga warisan budaya.

Agar tradisi Malaidinan tetap lestari, tongkat estafet pelestariannya kini dipegang oleh generasi muda kampung. 

Setiap tahun, anak-anak muda ditunjuk sebagai pemandu tradisi, sekaligus pembina bagi adik-adik mereka.

“Anak-anak muda inilah yang nantinya akan mewariskan kembali tradisi ini ke generasi berikutnya. Kami ingin Malaidinan terus hidup dan menjadi bagian dari identitas Kampung Jawa Tabanan,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#doa #bali #kurban #uang #hari raya #muslim #Sholawat #kampung jawa #takbir #tradisi #idul adha #sholat #tahlil #silaturahmi #uang saku