RadarBuleleng.id – Usia boleh hampir delapan dekade, namun semangat Sekaa Gong Kebyar Giri Kusuma dari Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, tetap membara.
Pada Sabtu (28/6/2025) malam, gong legendaris ini kembali menggema di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, dalam ajang Utsawa Gong Legendaris Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2025.
Dipimpin oleh I Putu Sudiarsa, Sekaa Gong Giri Kusuma menampilkan empat garapan. Masing-masing dua garapan tabuh dan dua tari klasik-kontemporer.
“Latihan sudah kami mulai sejak Desember 2024. Kami ingin menghadirkan karya yang bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan bagi generasi muda,” ujar Sudiarsa selaku koordinator sekaa.
Sekaa Gong ini berdiri sejak 1942 di bawah pimpinan Pan Canang. Pada 1966, gong ini berevolusi menjadi Sekaa Gong Kebyar Desa Bontihing berkat gagasan dua tokoh adat, almarhum Jero Mangku Nyoman Pancala dan almarhum I Wayan Negara.
Bersama pelatih dari Desa Jagaraga, I Made Keranca, lahirlah karya monumental Tabuh Pudak Sumekar.
Meski sempat mengalami kemunduran pada 1980-an, Gong Bontihing bangkit kembali. Pada 1983, barungan gong diperbaiki dan kembali tampil di momen-momen besar seperti perayaan HUT RI ke-38.
Tahun 1984, mereka kembali mengundang pelatih, almarhum I Nyoman Durpa, seniman asal Desa Satra yang kerap berkesenian di Buleleng, melahirkan Tari Kekelik dan Tabuh Telu Dwi Mekar.
Pada 1987, giliran I Wayan Rajeg dari Desa Tegallalang yang membina Sekaa ini. Ia menciptakan Tari Sekar Taji dan Tari Baris Sura Murti. Seiring
waktu, Giri Kusuma tampil dalam berbagai festival dan pentas prestisius. Bahkan pada 2015, mereka berkolaborasi dengan ISI Denpasar lewat program KKN dan menciptakan Tari Keseselan Semaya, yang kini menjadi maskot seni Desa Bontihing.
Adapun pada PKB 2025, mereka membawa empat garapan utama. Yakni tabuh Kreasi “Pudak Sumekar” ciptaan I Made Keranca pada tahun 1966.
Tabuh ini menggambarkan suasana spiritual di sekitar Pura Beji dan sumber air Kayoan di Desa Bontihing. Bunyi gemericik air, aroma bunga pudak yang harum, dan suara burung dijalin dalam tekstur musikal yang lembut sekaligus kuat.
“Ini adalah doa alam yang kami wujudkan dalam suara,” ujar Sudiarsa.
Garapan kedua adalah tabuh telu Dwi Mekar ciptaan alm. I Nyoman Durpa pada 1984. Gending ini merupakan eksplorasi dari gending lelambatan klasik pegongan.
Garapan ini memadukan dua elemen musikal yang berkembang dari warna klasik menuju ekspresi kekinian, namun tetap berpijak pada pakem tabuh lelambatan.
“Dwi Mekar berarti dua yang berkembang dan bersatu dalam satu struktur musikal,” jelas Sudiarsa.
Garapan ketiga adalah tari Kekelik yang mengisahkan keangkuhan seekor burung besar bernama Kekelik. Burung ini kerap menindas kawanan burung kecil. Namun lewat persatuan, burung-burung kecil berhasil menggulingkan kesombongan Kekelik.
Terakhir, adalah tari baris “Sura Murti”. Tari ini terinspirasi dari sosok Bimasena dalam kisah Mahabharata. Karya ini memvisualisasikan pasukan Baris dalam semangat patriotik.
Para penari membawakan adegan latihan perang dengan senjata gada, sebagai simbol keberanian dan bakti kepada Ibu Pertiwi.
Dengan tampilnya Giri Kusuma di ajang PKB tahun ini, ia berharap semangat regenerasi para penabuh kembali tumbuh.
Ia ingin anak-anak muda di Desa Bontihing untuk terus belajar, berlatih, dan mencintai seni tradisi. “Gong ini adalah bunga yang tumbuh di bukit. Kami menyebutnya Giri Kusuma, dan tugas kita menjaganya tetap mekar,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya