Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Jejak Toleransi di Puncak Sari, Pura di Pelosok Kintamani yang Rangkai Harmoni Bali dan Tionghoa

Admin • Senin, 28 Juli 2025 | 01:38 WIB

 

SIMPAN JEJAK TOLERANSI: Tampilan depan Pura Pucak Sari Desa Satra, Kintamani, Bali.
SIMPAN JEJAK TOLERANSI: Tampilan depan Pura Pucak Sari Desa Satra, Kintamani, Bali.

RadarBuleleng.id - Dari balik kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Dusun Tanah Gambir, Desa Satra, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, berdiri sebuah pura.

Pura Puncak Sari namanya. Pura ini bukan sekadar tempat suci umat Hindu. Melainkan sebuah kompleks spiritual yang menyimpan jejak panjang persaudaraan lintas budaya di Bali.

Di pura ini berdiri sebuah pelinggih utama. Tak jauh dari pelinggih utama menjulang sebuah bangunan berwarna merah mencolok dengan arsitektur khas Bali.

Di bagian atap tampak jelas terhias dengan ornamen naga, khas budaya Tionghoa. Inilah Pelinggih Ratu Ayu Subandar, tempat sembahyang yang digunakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa sejak zaman dahulu.

“Itu bukan pelinggih baru. Sudah ada sejak lama dan menjadi bagian pura. Dari dulu masyarakat Bali dan warga keturunan Tionghoa di sini sudah saling menjaga,” tutur Pemangku Pura Puncak Sari, Nyoman Srimanik atau yang akrab disapa Nyonyah Mangku.

Pura Puncak Sari tak hanya menjadi ruang spiritual bagi umat, tetapi juga simbol nyata akulturasi. Setiap kali piodalan digelar, umat Hindu dan masyarakat keturunan Tionghoa datang beriringan, membawa canang dan dupa. 

Di Satra, umat Hindu dan Tionghoa hidup berdampingan dalam keseharian. Warga tidak pernah mempermasalahkan keberadaan Pelinggih Ratu Ayu Subandar. Umat juga tidak pernah keberatan saat masyarakat Tionghoa ikut bersembahyang di pura.

Bagi mereka, selama meyakini dan saling menghormati kepercayaan masing-masing, maka tidak perlu ada yang dipermasalahkan. Karena seluruhnya sama-sama memuja Yang Esa.

“Pura ini adalah lambang hidup berdampingan dalam keragaman. Ini adalah warisan budaya yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada dunia,” ungkap seorang tokoh dusun Tanah Gambir, A.A. Oka Merjaya.

Pura Puncak Sari adalah implementasi nyata filosofi Tri Hita Karana di Bali. Pura ini menjadi saksi bahwa toleransi bukan cuma wacana, tapi hal nyata yang harus dirawat bersama. (Penulis: I Kadek Ari Winasa)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #akulturasi #hindu #arsitektur #naga #tionghoa #kintamani #dusun #pelinggih #desa #dupa #spiritual #budaya #canang #ratu #pura #pemangku