Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dari Pementasan “Lwah Solas”: Kritik Pencemaran di Mata Air Tukad Saba

Eka Prasetya • Kamis, 14 Agustus 2025 | 22:37 WIB
KRITIK PENCEMARAN AIR: Pementasan karya
KRITIK PENCEMARAN AIR: Pementasan karya

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Sumber air memiliki peran penting bagi masyarakat Bali. Sumber air menjadi lokasi untuk melakukan ritus keagamaan, sekaligus memohon tirta.

Sayangnya mata air yang punya peran penting kini mulai terganggu. Mata air mulai tercemar, bahkan ada yang mengering.

I Gusti Bagus Putrayata, Mahasiswa di Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta punya cara sendiri menyuarakan kegelisahannya soal mata air di Buleleng, khususnya di Tukad Saba.

Pria asal Desa Lokapaksa, Kabupaten Buleleng, Bali itu, menggelar pementasan bertajuk “Lwah Solas”. Pementasan itu berlangsung di Tukad Saba, pada Senin (11/8/2025) lalu.

Dalam pementasan itu ia menghadirkan karya musik dan tari. Ia bersama timnya merespon kerusakan mata air yang terjadi di hilir Tukad Saba.

Mereka mementaskan karya musik dari peralatan tradisional. Seperti gendang, bedug, gong, hingga alat penumbuk padi tradisional seperti lesung dan alu.

ALAT TRADISIONAL: Pementasan karya
ALAT TRADISIONAL: Pementasan karya

Baca Juga: Jarang Ditampilkan, Pementasan Calonarang Tarik Perhatian Masyarakat Buleleng

Ada pula penari yang merespons karya tersebut. Mereka bahkan menceburkan diri ke aliran sungai.

Putra menuturkan karya itu terinspirasi dari filosofi lokapaksa. Menurutnya Lwah dalam bahasa kawi berarti sungai, sementara solas berarti sebelas dalam bahasa bali. 

Sehingga karya tersebut bermakna tentang sebelas mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di Desa Lokapaksa.

“Karya ini juga menjadi refleksi atas perubahan lingkungan. Khususnya pencemaran mata air yang terjadi di Lokapaksa yang merupakan kawasan hilir Tukad Saba,” ungkapnya.

Lebih lanjut Putra menuturkan pihaknya sengaja mengemas pertunjukan musik dengan menggunakan benda-benda dari alam. 

“Tujuannya untuk mengeksplorasi harmoni dan irama yang ada di alam,” ujarnya.

Sementara dalam pertunjukan, ia menggabungkan unsur musik, tari, teater, dan instalasi visual. 

“Pertunjukan ini menggambarkan perjalanan air, kehidupan masyarakat, dan pencemaran yang semakin mengancam,” tegasnya.

Pementasan itu turut disaksikan Rektor ISI Surakarta, Prof. I Nyoman Sukerna; Zulkarnain Mistortoify selaku Ketua Penguji, dan Prof. Pande Made Sukerta sebagai Ketua Penguji Utama. (*)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #ritus #sumber air #sungai #tari #air #musik #mata air #pementasan #Tukad Saba #Tirta #buleleng #ISI #pascasarjana