SUKASADA - Di antara rumah-rumah masa kini yang semakin modern, berdiri griya tua. Griya Sangket Sukasada namanya. Griya yang terletak di Kabupaten Buleleng itu merupakan sebuah bangunan tua yang menyimpan kisah masa lalu.
Di griya tersebut, dua patung batu berdiri membisu. Masyarakat mengenalnya dengan banyak sebutan. Ida Ratu Gede, Ida Ratu Kakyang, atau Ida Ratu Ngurah. Keluarga besar griya meyakini bahwa patung tersebut merupakan perlambang dari Ida Betara Dalem Ped, sosok penjaga sekaligus pelindung niskala griya.
Tak ada manuskrip yang mencatat keberadaan patung itu. Baik itu lewat prasasti maupun lontar. Namun kisah sakral patung tersebut tetap tak lekang oleh waktu. Mengikuti kisah yang diwariskan para tetua dari generasi ke generasi.
Umat meyakini sosok Ida Ratu Gede merupakan personifikasi dari Dewa Siwa. Dewata yang memberikan pengobatan niskala, sang pengasih, dan pelindung dari segala bentuk gangguan niskala.
Ketika ada ternak yang sakit, masyarakat akan datang. Menghaturkan tipat, lalu meminta air suci atau tirta. Air dipercikkan kepada ternak. Niscaya, ternak warga akan sembuh. Bagi warga, keyakinan itu bukan takhayul.
“Dulu, kalau ada sapi atau babi yang sakit, warga pasti datang ke sini, mapinunas, mohon kesembuhan. Dan sering kali sembuh,” ujar Ida Bagus Bukit Kemenuh, keluarga Griya Sangket.
Kehadiran patung-patung sakral di Griya Sangket diyakini berawal dari sosok Dang Hyang Wiraga Sandi, putra kedua dari Dang Hyang Nirartha. Usai sang ayah moksa di Uluwatu, ia berniat kembali ke tanah Jawa. Namun takdir berkata lain. Perjalanan itu terhenti saat Raja Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti, menjemputnya menjadi bhagawan kerajaan.
Sang brahmana kemudian menjadi sosok yang dituakan di Griya Sangket Sukasada. Lokasi itu kemudian menjadi pusat spiritual masyarakat Denbukit. Lokasi Raja dan para punggawa kerajaan memohon petunjuk dan restu.
Tak lama, dari Desa Kemenuh, Gianyar datang para panjak (pengikut) Dang Hyang Wiraga Sandi. Saat itu para panjak membawa patung-patung, termasuk salah satunya patung Ida Ratu Gede. Dengan harapan patung tersebut menjaga griya dari berbagai ancaman, khususnya ancaman niskala.
Patung itu diyakini punya kehendak. Salah satu hal yang paling unik, adalah kegemaran Ida Ratu Gede pada tipat. Makanan sederhana ini dipercaya mampu menenangkan bila sosok yang berstana di patung sedang tak enak hati.
Konon, bila ada yang bertindak tidak sopan di area patung, gempa kecil akan terasa hanya di sekitar sana. Tak sekali dua kali warga merasakan peristiwa itu.
“Kalau sampai terjadi, penglingsir akan berkata, ‘Ida Ratu Ngurah, sampunang bendu, malih jebos ke karyanin banten ketipat.’ Setelah itu, gempa hilang,” jelas Ida Bagus Bukit.
Ada pula yang bersaksi bahwa tepat pukul 00.00 dini hari, saat pergantian hari, Ida Ratu Gede akan medal, keluar dari griya. Mendatangi ternak yang sedang sakit. Pintu griya tak boleh ditutup pada malam hari, agar jalan tetap terbuka.
Suara ketukan tongkat kayu kerap terdengar dari dalam griya. Diikuti lolongan anjing di kejauhan. Warga meyakini simbol-simbol itu sebagai pertanda bahwa Ida Ratu Gede tengah menunaikan tugas.
Masyarakat juga meyakini bahwa mereka tak boleh melemparkan batu pada anjing yang melolong. Sebab, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat buruk. Bahkan diyakini sebagai bentuk penghinaan pada Ida Ratu Gede.
Meski zaman semakin modern, pengobatan medis semakin dikenal, keyakinan terhadap sosok Ida Ratu Gede tetap lestari. Lewat kisah yang diwariskan dari para leluhur kepada para generasi selama berabad-abad, keyakinan itu tetap bertahan. (Penulis: Ida Ayu Kade Bulan Cahya Ningrat)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya