RadarBuleleng.id – Gelaran Pasamuhan Alit Kebudayaan Bali (PAKB) 2025 di Art Centre Denpasar, Rabu (22/10/2025), menuai kritik dari sejumlah peserta.
Salah satunya datang dari budayawan asal Buleleng, Kadek Sonia Piscayanti, yang menyoroti pentingnya hasil konkret dari forum tersebut.
“Saya dari Bali Utara berangkat sejak pukul 05.00 untuk menghadiri acara ini. Semoga ada hasil dan kesimpulan nyata dari pasamuhan ini,” ujar Sonia.
Sonia menilai forum kebudayaan seperti PAKB seharusnya tidak berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan rekomendasi yang bisa diimplementasikan di lapangan, terutama untuk penguatan budaya di daerah-daerah seperti Buleleng yang masih minim perhatian.
Pasamuhan Alit Kebudayaan Bali 2025 mengangkat tema “Menjaga Tanah Bali dan Ketahanan Budaya dalam Industri Pariwisata Bali.”
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, 22–23 Oktober, dan diikuti perwakilan Dinas Kebudayaan se-Bali, Majelis Kebudayaan Bali (MKB), seniman, budayawan, hingga akademisi.
Namun, pada hari pertama, forum sempat disorot karena ketimpangan gender dalam daftar narasumber. Dari empat pembicara, semuanya laki-laki.
Dosen ISI Bali, Prof. Dewi Yulianti, menyoroti hal ini ketika menanggapi materi Prof. I Made Bandem yang menyinggung isu gender.
“Ketika membahas gender, apa yang dimaksud? Sebab semua narasumber laki-laki. Ini kan jadi ketimpangan,” kritiknya.
Empat narasumber utama hari itu adalah Prof. I Dewa Gede Palguna, Prof. I Gede Pitana (Ida Pandita Mpu Brahmananda), Prof. Wayan Windia, dan Prof. I Made Bandem.
Mereka membahas isu-isu strategis mulai dari pelestarian tanah dan manusia Bali, redefinisi pariwisata budaya, hingga peran desa adat.
Prof. Palguna dalam paparannya mengingatkan ancaman industrialisasi terhadap budaya Bali. Ia menilai pariwisata semestinya berbasis budaya, bukan semata industri.
“Kalau industri yang jadi logika, turis lah yang jadi tuan dan masyarakat Bali yang didikte,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Harian Majelis Kebudayaan Bali, Prof. I Komang Sudirga, berharap PAKB menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat Bali untuk menjaga jati diri budaya di tengah gempuran globalisasi.
“Perlu membangun rasa militansi, sutindih wirang, dan jengah atas tanah serta kebudayaan Bali jika tidak ingin menyesal di kemudian hari,” pesannya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya