Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Jejak Agraris Bali Aga, Tradisi Sampi Gerumbungan di Pedawa yang Tak Pernah Putus

Eka Prasetya • Senin, 9 Februari 2026 | 12:51 WIB

 

SAMPI GERUMBUNGAN: Tradisi sampi gerumbungan yang digelar di Desa Pedawa, salah satu Desa Bali Aga di Buleleng, Bali.
SAMPI GERUMBUNGAN: Tradisi sampi gerumbungan yang digelar di Desa Pedawa, salah satu Desa Bali Aga di Buleleng, Bali.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ratusan warga tumpah ruah memadati Subak Penyahcah, Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Minggu (8/2/2026). 

Mereka datang untuk menyaksikan Tradisi Sampi Gerumbungan, atau yang juga dikenal sebagai Sampi Gembeng, sebuah ritual agraris warisan leluhur yang masih lestari di Desa Bali Aga Pedawa.

Tradisi ini diawali dengan Upacara Pegat Sot atau Naur Sesangi yang dipimpin langsung oleh Balian Desa Pedawa. 

Upacara sakral tersebut berkaitan dengan janji atau ucapan yang pernah terucap dan wajib “dibayar” melalui ritual sebagai bentuk tanggung jawab spiritual.

Balian Desa Pedawa, I Nyoman Kalam, menjelaskan bahwa Upacara Pegat Sot memiliki keterkaitan erat dengan Tradisi Sampi Gerumbungan. 

Subak dan persawahan dipandang sebagai ruang pemujaan kepada Ida Betari Sri, simbol kemakmuran dan kesuburan.

“Dalam upacara Pegat Sot ini dipimpin oleh Balian Desa, Penghulu (Dulu Desa) disaksikan oleh Perbekel Desa Pedawa, Bendesa dan Prajuru Desa Adat, sebagai Manusa Saksi di alam sekala serta dilengkapi bebanten, sebagai bentuk persembahan di alam niskala,” ujarnya.

Menurutnya, rangkaian upacara ini selalu dilaksanakan sebelum masa tanam padi atau melasah. Tradisi tersebut tidak boleh terputus, terlepas ada atau tidaknya warga yang melakukan sesangi.

“Tidak boleh putus, untuk Tradisi Sampi Gerumbungan, bilamana ada warga yang mesesangi ataupun tidak. Terlebih dahulu Desa Pedawa merupakan hamparan persawahan sebelum berubah menjadi perkebunan,” ungkapnya.

Dalam prosesi Sampi Gerumbungan, setiap sapi terlebih dahulu diperciki tirta suci. Setelah ritual Pegat Sot rampung, salah seorang warga membawa adengan berkeliling area persawahan. 

Terdapat dua jenis banten adengan yang wajib digunakan, yakni adengan lanang dan adengan istri, sebagai simbol keseimbangan.

Sementara itu, Ketut Sumitra, selaku Baga Barat Desa Kaliasem, menyebut tradisi Gembeng telah diwariskan sejak zaman leluhur, seiring Buleleng yang sejak dahulu dikenal sebagai wilayah agraris.

“Ini merupakan Tradisi Sampi Gembeng yang tiada duanya di Buleleng,” ujarnya.

Masih lestarinya kehidupan agraris di Desa Bali Aga Pedawa menjadi harapan agar Tradisi Sampi Gerumbungan tetap eksis dan diwariskan lintas generasi, sebagai identitas budaya sekaligus penanda kuat hubungan manusia, alam, dan spiritualitas. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #bali aga #sampi gerumbungan #balian #warga #sakral #Banjar #subak #tradisi #PEDAWA #spiritual #Pegat Sot #agraris #buleleng