Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Hujan Bukan Halangan, Para Pemuda Tetap Lestarikan Tradisi Megoak-goakan Usai Nyepi

Eka Prasetya • Jumat, 20 Maret 2026 | 17:14 WIB

 

LESTARIKAN TRADISI: Para pemuda di Desa Panji melakukan tradisi megoak-goakan di Lapangan Desa Panji, pada Jumat (20/3/2025). Tradisi tersebut rutin dilaksanakan usai hari raya Nyepi.
LESTARIKAN TRADISI: Para pemuda di Desa Panji melakukan tradisi megoak-goakan di Lapangan Desa Panji, pada Jumat (20/3/2025). Tradisi tersebut rutin dilaksanakan usai hari raya Nyepi.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ragam tradisi unik masih mewarnai perayaan Hari Raya Nyepi di Kabupaten Buleleng, Bali. 

Di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, masyarakat tetap melestarikan tradisi megoak-goakan yang digelar saat Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi.

Pada perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948, tradisi ini berlangsung pada Jumat (20/3/2026) dan tersebar di lima titik utama. Yakni Lapangan Ki Barak Panji, Monumen Perjuangan Bhuana Kerta, Banjar Dinas Kembang Sari, Banjar Dinas Kelod Kauh, dan Banjar Dinas Bangah.

Di Lapangan Ki Barak Panji, ratusan muda-mudi sudah memadati area sejak pukul 15.30 WITA. Mereka menunggu prosesi persembahyangan di Pura Pajenengan Panji Sakti yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi.

Usai persembahyangan dan pembagian tirta, para peserta langsung turun ke lapangan. Mereka kemudian membentuk barisan panjang. 

Pemain di barisan depan bertugas melindungi kelompoknya, sementara pemain di bagian belakang berupaya menangkap “ekor” barisan lawan.

Baca Juga: Pengiriman Ratusan Gram Ganja Via Bandara Ngurah Rai Digagalkan. Dua Pria Diciduk di Gianyar

Meski hujan lebat sempat mengguyur, semangat para anggota Sekaa Truna Truni (STT) tidak surut. Justru, kondisi tersebut menambah antusiasme mereka dalam memainkan tradisi yang sarat nilai sejarah itu.

Megoak-goakan sendiri merupakan representasi kisah perjuangan Raja Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti, saat menaklukkan Kerajaan Blambangan pada abad ke-17. 

Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya meneladani nilai kepemimpinan, persatuan, dan gotong royong yang diwariskan.

Salah satu warga Desa Panji, Nyoman Merta mengatakan, tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman leluhur.

“Tradisi megoak-goakan ini sudah turun temurun dari nenek moyang kini. Ini dulunya warisan dari I Gusti Anglurah Panji Sakti saat menang menghadapi Blambangan, para pasukan Goak di Desa Panji menyambut kedatangan beliau. Setelah itu, megoak-goakan ini terus dilakukan sebagai warisan leluhur di Desa Panji,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi tersebut tidak sekadar permainan rakyat, tetapi juga menjadi sarana pelibatan generasi muda agar budaya tetap lestari.

Lebih lanjut Nyoman Merta mengungkapkan, ada dua jenis megoak-goakan di Buleleng. Yakni megoak-goakan sakral yang hanya dipentaskan di pura, dan megoak-goakan yang bersifat seperti permainan rakyat.

“Kalau untuk yang sakral, pemainnya terbatas 40 orang. Kalau yang untuk permainan rakyat, ya sebanyak-banyaknya bisa,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Desa Panji, Wayan Ganesha, menegaskan pihaknya terus mendorong pelestarian tradisi ini kepada generasi muda.

“Kami meneruskan ke generasi selanjutnya. Menjelaskan apa itu filosofi megoak-goakan, apa maknanya dan kenapa harus dilestarikan. Karena ini bukan semata-mata permainan, tapi warisan sejarah bagi Desa Panji,” katanya.

Menurutnya, megoak-goakan juga menjadi media mempererat persaudaraan di kalangan pemuda. Saat ini, tradisi tersebut masih tersebar di beberapa titik di Desa Panji.

Ia pun berencana duduk bersama dengan pemerintah desa serta seluruh STT yang ada di Desa Panji, sehingga megoak-goakan bisa dimainkan di satu lokasi yang sama.

“Khusus di lapangan Desa Panji ada 4 STT yang megoak-goakan. Harapannya supaya kedepan bisa bersama-sama dalam satu wadah Desa Panji, 11 STT yang ada melakukan megoak-goakan di Lapangan Panji Sakti,” jelasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #karang taruna #ngembak geni #raja buleleng #stt #hari raya #Goak Incar Mangsa #sakral #megoak-goakan #Bhuana Kerta #leluhur #sukasada #tradisi #hujan #nyepi #I Gusti Anglurah Panji Sakti #Tirta #tahun baru saka #buleleng #lapangan #panji #sekaa truna truni