SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Upaya menghidupkan kembali denyut seni pedalangan di Bali Utara dilakukan melalui Festival Wayang Bali Utara.
Festival yang digelar oleh Yayasan Lemah Tulis tersebut akan berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis (9/4/2026) hingga Sabtu (11/4/2026) di Museum Sunda Kecil, kawasan Pelabuhan Tua Buleleng.
Founder Festival Wayang Bali Utara, I Putu Ardiyasa, menjelaskan bahwa festival tersebut merupakan upaya menghidupkan ruang budaya yang selama ini dinilai belum optimal.
“Museum ini kan Cagar budaya yang sudah diakui tapi belakangan ini memantik kami mengaktivasi. Karena tiap kami kesini banyak ada pengunjung tapi rasanya ada yang kurang. Sehingga kami menawarkan aktivasi lewat Wayang,” ujarnya.
Menurutnya, wayang merupakan seni yang sangat dinamis dan mampu bertahan lintas zaman.
Ia menyebut, sejarah wayang telah berlangsung ribuan tahun dan tetap relevan hingga kini karena mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami melihat Wayang dinamis sekali dan selalu berkembang mengikuti zaman. Sejarah Wayang itu tiga ribu tahun yang lalu sudah ada, dan sekarang masih bertahan dengan tetap mengikuti kebutuhan zaman,” imbuh pria yang juga dosen di Institut Mpu Kuturan Singaraja itu.
Ardiyasa juga menyoroti keunikan Bali Utara, khususnya Buleleng, yang dinilai masih mampu mempertahankan kehidupan dalang tradisional secara mandiri.
Ia menyebut dalang-dalang di Buleleng mampu tetap hidup. Bukan hanya lewat pementasan ritual, tapi juga lewat pementasan yang bernuansa kontemporer.
“Mereka mampu menyerap budaya luar, dan bisa bertahan lewat berbagai pertunjukan, selain juga pemenuhan kebutuhan ritual,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, wayang Bali Utara memiliki ciri khas tersendiri, baik dari bentuk visual maupun gaya pementasan.
Ukuran wayang cenderung lebih besar, dengan motif yang terinspirasi dari ukiran khas Buleleng seperti di Pura Beji dan Pura Maduwe Karang. Selain itu, karakter vokal dalangnya juga lebih dinamis dan sarat konflik dalam setiap adegan.
Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong adanya pendataan dalang sebagai langkah awal menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak pada pelaku seni tradisi.
Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar memasukkan wayang ke dalam kurikulum pendidikan lokal.
Festival ini dirancang tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga ruang edukasi dan interaksi budaya.
Berbagai agenda disiapkan, mulai dari diskusi pengenalan wayang kulit dan lukisan wayang kaca, workshop pembuatan wayang, hingga pementasan dari sejumlah dalang.
Salah satu penampilan yang dinanti adalah pentas dalang cilik Dewa Komang Satya Aby Mantra, serta orasi kebudayaan oleh I Wayan Nardayana alias Dalang Cenk Blonk. Selain itu, akan tampil pula sejumlah dalang seperti Jro Dalang Sudarma dan Jro Dalang Upik.
Agenda lain meliputi workshop lukisan wayang kaca Nagasepaha, pembuatan wayang kulit, bedah buku Wayang Sapuh Leger, tur museum, hingga pementasan Wayang Ental, Wayang Suket, dan Wayang Tala Jiwa. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya