SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Buleleng ambil bagian dalam Lomba Barong Ket pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 Tahun 2026 yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Rabu (24/6/2026).
Kabupaten Buleleng diwakili Sanggar Seni Wahana Santhi, Desa Umajero, Kecamatan Busungbiu, dengan garapan berjudul "SINGAde Barong".
Garapan tersebut mengusung konsep yang berbeda dibandingkan penyajian Barong Ket dari daerah lain di Bali.
Selain menampilkan unsur estetika dan teknik pertunjukan, karya ini juga mengangkat identitas budaya Bali Utara melalui pendekatan seni pertunjukan.
Konseptor garapan, I Ketut Pany Ryandhi, mengatakan judul "SINGAde Barong" memiliki dua makna. Pertama, dimaknai sebagai "Singa de Barong" yang merujuk pada sosok singa sebagai representasi visual Barong Ket.
Kedua, dimaknai sebagai "Sing Ade Barong" yang dalam bahasa Bali berarti "tidak ada barong".
Menurutnya, makna tersebut bukan berarti Buleleng tidak memiliki tradisi barong. Namun, perkembangan tradisi Barong Ket di Bali Utara memang tidak sekuat beberapa daerah lain di Bali.
"Berangkat dari situ, kami ingin menghadirkan perspektif orang Buleleng terhadap Barong Ket. Melalui kesempatan ini kami mencoba membawa cara pandang masyarakat Bali Utara dalam memaknai barong, baik dari sisi estetika maupun spirit yang terkandung di dalamnya," jelasnya.
Konsep itu kemudian diwujudkan melalui perpaduan tradisi Barong Ket dengan karakter musik Bali Utara.
Tim kreatif mengadopsi semangat musik kebyar yang selama ini menjadi salah satu identitas kesenian Buleleng.
Unsur energi, dinamika, dan eksplorasi musik kebyar dipadukan tanpa menghilangkan pakem Barong Ket.
Selain mengangkat identitas budaya, garapan ini juga membawa pesan kesetaraan dalam dunia seni. Hal itu ditunjukkan melalui keterlibatan penabuh perempuan, baik dalam proses kreatif maupun saat pementasan.
Sanggar Seni Wahana Santhi menilai kualitas seorang seniman tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kemampuan, dedikasi, dan komitmen dalam berkesenian.
Dari sisi penyajian, garapan tetap mengikuti ketentuan lomba yang ditetapkan panitia PKB. Struktur pertunjukan disusun berdasarkan hirarki musikal, mulai dari bagian pembuka hingga pengembangan adegan yang memberi ruang bagi penari dan penabuh menampilkan kemampuan artistiknya.
Pany Ryandhi mengatakan, struktur tersebut disusun sesuai pedoman lomba dari Dinas Kebudayaan Bali.
"Sesuai hirarki yang sudah ditentukan. Secara musikal, kami mengadopsi struktur yang telah ditetapkan dalam kriteria lomba," pungkasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya