SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Sejak 2025, Desa Adat Buleleng memiliki cara tersendiri untuk merayakan semangat Hari Suci Nyepi.
Melalui Pengerupukan Festival, desa adat setempat membuka ruang yang lebih luas bagi para yowana atau generasi muda untuk menyalurkan kreativitas mereka dalam berkesenian, khususnya melalui pembuatan ogoh-ogoh.
Festival yang kini telah memasuki edisi kedua itu menjadi wadah bagi yowana dari 14 banjar adat di wilayah Desa Adat Buleleng untuk menampilkan karya terbaik mereka.
Bagi masyarakat Bali, ogoh-ogoh bukan sekadar pelengkap malam Pengerupukan, melainkan representasi kreativitas, gotong royong, dan ekspresi seni yang terus berkembang dari generasi ke generasi.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, mengatakan kehadiran Pengerupukan Festival merupakan bentuk nyata dukungan desa adat terhadap kreativitas anak-anak muda.
“Pengerupukan Festival menjadi jawaban kepada para yowana, bahwa desa adat mendukung segala kreativitas di kalangan muda-mudi,” ujarnya.
Lahirnya festival tersebut tidak lepas dari keputusan Desa Adat Buleleng pada 2024 yang saat itu memilih tidak menggelar pembuatan maupun pengarakan ogoh-ogoh.
Keputusan itu diambil karena pelaksanaannya bertepatan dengan piodalan dan momentum pesta demokrasi. Desa adat ingin memastikan ruang kreativitas generasi muda tetap terjaga dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Setahun kemudian, dukungan terhadap yowana diwujudkan dalam bentuk yang lebih konkret.
Pada penyelenggaraan perdana tahun 2025, masing-masing sekaa yowana dari 14 banjar adat memperoleh bantuan dana sebesar Rp5 juta untuk pembuatan ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam festival.
Pengerupukan Festival edisi pertama bahkan mendapat perhatian nasional. Saat itu, Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa hadir langsung dan membuka acara yang dikemas dalam format perlombaan.
Memasuki edisi kedua, dukungan Desa Adat Buleleng semakin besar. Bantuan dana yang diberikan meningkat menjadi Rp15 juta untuk masing-masing banjar adat. Tak hanya itu, konsep kegiatan juga diubah dari kompetisi menjadi parade budaya.
Perubahan tersebut dilakukan untuk memperkuat nilai kebersamaan dan kolaborasi antar-yowana, sekaligus mengurangi tekanan persaingan yang kerap muncul dalam sebuah perlombaan.
Menurut Sutrisna, festival ini tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya seni semata.
Lebih dari itu, Pengerupukan Festival diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Buleleng dan menjadi ruang regenerasi bagi pelestarian tradisi di tengah perkembangan zaman.
“Tidak sekadar ajang pelestarian budaya, atau untuk gagah-gagahan, tetapi juga mampu memperkuat identitas budaya Buleleng. Festival ketiga akan dukung heritage Kota Singaraja,” tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng