Mengenal Pura Taman Sari: Jejak Nakhoda Tiongkok dan Harmoni Lintas Iman di Tepi Pantai Singaraja

Francelino Junior • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 12:31 WIB
JEJAK TOLERANSI: Suasana di Pura Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Buleleng. (Francelino Junior/Radar Buleleng)
JEJAK TOLERANSI: Suasana di Pura Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Buleleng. (Francelino Junior/Radar Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Sore itu, suara debur ombak terdegar jelas dari pelataran Pura Taman Sari. 

Berada tepat di bibir pantai Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, pura ini menyimpan kisah panjang yang tak hanya berkaitan dengan sejarah spiritual, tetapi juga jejak hubungan lintas budaya dan toleransi yang terus hidup hingga kini.

Di balik deretan pelinggih yang berdiri kokoh, tersimpan cerita yang diwariskan turun-temurun melalui lontar kuno. 

Pemangku Pura Taman Sari, Jro Mangku Putu Kariasa, menuturkan bahwa pada awalnya kawasan tersebut hanyalah sebuah lokasi sederhana yang ditandai satu pohon juwet besar dengan mata air yang memancar di bawahnya.

Kisah itu bermula sekitar tahun 1801. Saat itu sebuah kapal dari Tiongkok melintasi perairan Bali. 

Persediaan air bersih di kapal menipis. Sang nahkoda kemudian memutuskan menepi di pesisir Taman Sari. Ia meyakini keberadaan pohon besar menjadi pertanda adanya sumber air di sekitarnya.

Dugaan itu ternyata benar. Dari bawah pohon juwet tersebut mengalir mata air yang jernih dan deras. Para awak kapal segera turun membawa tong-tong untuk mengisi perbekalan sebelum melanjutkan pelayaran.

Namun, peristiwa tak terduga terjadi saat mereka hendak kembali ke kapal utama.

“Awak kapalnya pun turun untuk mengambil air minum hingga tongnya penuh. Namun ketika hendak kembali, air laut tiba-tiba surut dan kapal kecil yang digunakan mengangkut air justru karam,” cerita Jero Kariasa.

Berbagai upaya dilakukan. Awak kapal bersama warga sekitar yang saat itu masih masuk wilayah Banyuning bahu-membahu mendorong kapal yang kandas. Sayangnya, usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

Dalam kondisi lelah dan putus asa, sang nahkoda memilih beristirahat. Malam itu ia bersemedi dan bernazar. Jika berhasil kembali berlayar menuju tanah kelahirannya, ia berjanji akan membangun sebuah stupa sebagai ungkapan syukur.

Keajaiban kemudian dipercaya terjadi. Saat fajar menyingsing dan mereka terbangun, air laut kembali pasang. Kapal yang sebelumnya kandas dapat bergerak kembali. 

Janji pun ditepati. Sebuah stupa dibangun di lokasi tersebut sebagai simbol rasa syukur atas keselamatan mereka.

Perjalanan tempat suci ini terus berlanjut. Pada dekade 1960-an, seorang warga keturunan Tionghoa bernama Nyoman Kuta bersama masyarakat setempat mulai merintis dan melengkapi berbagai pelinggih. 

Dari yang semula hanya satu tempat pemujaan, kawasan tersebut berkembang menjadi sebuah pura.

“Awalnya disebut Pura Gerojogan karena airnya mengalir deras, ngerojog. Kemudian berubah nama menjadi Pura Taman Sari,” ungkap Jero Kariasa.

Hingga kini, sumber mata air tetap menjadi daya tarik utama. Banyak umat datang tidak hanya untuk sembahyang, tetapi juga melakukan ritual melukat dan memohon berbagai harapan hidup.

Yang menarik, pengunjungnya tidak hanya umat Hindu. Warga keturunan Tionghoa juga kerap datang bersembahyang karena merasa memiliki keterkaitan sejarah dengan kisah nahkoda Tiongkok yang diyakini menjadi bagian dari asal-usul pura tersebut.

Selain itu, banyak masyarakat datang untuk memohon keselamatan, kesehatan, keturunan, kelancaran usaha, hingga restu sebelum mengikuti berbagai kompetisi. 

Menurut Jero Kariasa, sejumlah tokoh publik bahkan pernah datang memanjatkan doa di tempat tersebut.

Meski terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat baik, Pura Taman Sari memiliki satu pantangan yang dijaga hingga kini. Tempat ini tidak diperkenankan digunakan untuk bersumpah.

Menurut kepercayaan yang berkembang, sumpah yang diucapkan di kawasan tersebut diyakini memiliki konsekuensi spiritual yang berat. 

Bahkan, disebut pernah ada keturunan yang harus melakukan upacara khusus untuk mencabut sumpah yang pernah diucapkan leluhurnya.

Keistimewaan lain terletak pada keberadaan sumber airnya. Banyak orang hanya mengetahui satu mata air utama. Padahal, menurut Jero Kariasa, terdapat empat sumber mata air yang berbeda di kawasan pura tersebut. 

Jika ditambah air laut yang berada tepat di depannya, maka kawasan itu dipercaya memiliki lima sumber air atau yang dikenal sebagai panca tirta.

“Pelukatan di sini multifungsi. Orang luar tahunya hanya satu mata air, padahal ada empat. Ditambah air laut, jadi bisa dibilang panca tirta,” tegasnya.

Kisah toleransi yang tumbuh di Pura Taman Sari juga terekam dalam berbagai pengalaman masyarakat.

Salah satunya terjadi pada awal 1990-an. Saat itu seorang warga Muslim yang sedang menggelar hajatan mendadak dilanda kepanikan setelah sejumlah tamunya mengalami keracunan makanan dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Dalam kondisi bingung dan cemas, ia tanpa sengaja berhenti di depan Pura Taman Sari. Di tempat itu, ia memohon pertolongan kepada kekuatan suci yang diyakini berstana di kawasan tersebut.

Tak lama kemudian, hasil penyelidikan menyatakan insiden tersebut murni disebabkan makanan basi dan bukan unsur kesengajaan. Ia pun terhindar dari persoalan hukum.

Sebagai bentuk rasa syukur, warga tersebut kembali ke Pura Taman Sari untuk memenuhi nazarnya.

“Dia bayar kaul, berdoa secara Islam di Pura Taman Sari, tapi mau nunas tirta,” kata Jero Kariasa.

Pura Taman Sari juga menyimpan cerita yang menghubungkannya dengan tokoh-tokoh spiritual dari masa lampau.

Beberapa keluarga besar dari puri-puri di Gianyar pernah datang menelusuri jejak leluhur mereka. 

Dalam lontar yang mereka miliki disebutkan bahwa sekitar tahun 1601 terdapat seorang lingsir dari Gianyar yang melakukan perjalanan ke Buleleng.

Tokoh tersebut disebut bersemedi di bawah sebuah pohon dan menancapkan benda tertentu hingga memunculkan mata air yang mengalir deras. 

Setelah ditelusuri secara spiritual, lokasi yang dimaksud diyakini berada di kawasan yang kini menjadi Pura Taman Sari.

Tak hanya itu, pura ini juga dipercaya memiliki keterkaitan dengan kawasan Ulun Danu Batur dan Danau Buyan. Keyakinan tersebut diperkuat dengan keberadaan pelinggih Dewi Danu di area pura.

Jero Kariasa bahkan mengingat peristiwa pada era 1990-an ketika debit mata air sempat menyusut setelah adanya penggalian sumur sedalam 13 meter di sekitar kawasan Taman Sari.

Menurut cerita yang berkembang saat itu, seorang guru spiritual menyebut mata air Taman Sari merupakan bagian dari jalur spiritual yang terhubung dengan Ulun Danu Batur. Setelah sumur tersebut ditutup dan dilakukan persembahan, kondisi mata air kembali normal.

Di balik berbagai kisah spiritualnya, Pura Taman Sari kini dikenal pula sebagai Pura Pancasila.

Julukan itu bukan tanpa alasan. Selain berada di Kelurahan Kampung Baru yang dikenal sebagai Kampung Pancasila, kehidupan di sekitar pura juga menjadi contoh nyata harmoni antarumat beragama.

Tidak sedikit warga Muslim maupun keturunan Tionghoa yang terlibat dalam berbagai kegiatan di pura. 

Bahkan, dalam setiap pelaksanaan upacara keagamaan, selalu ada warga non-Hindu yang turut membantu sebagai pengayah.

“Selalu ada muslim di sini jadi pengayah, di samping dukungan dari umat lain, serta dari (perguruan pencak silat) Bakti Negara,” ujar Kelian Pura Taman Sari, Ketut Windu Saputra. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
tiongkok air buleleng pura toleransi