SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Suasana pembukaan Buleleng Festival (Bulfest) 2026, Selasa (18/8/2026), terasa berbeda.
Sebanyak dua sosok yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan seni tari Buleleng kembali menari. Di tengah riuh penonton dan gemerlap lampu, usia seolah hanya menjadi angka.
Ni Luh Herawati, 62, tampil membawakan Tari Trunajaya. Di sisi lain, Prof. Ni Luh Sustiawati tampil dengan Tari Wiranjaya.
Keduanya bukan sekadar penari yang kembali naik panggung. Mereka adalah bagian dari mata rantai panjang yang menjaga karya para maestro seni Buleleng tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kehadiran keduanya menjadi salah satu momen istimewa dalam pembukaan Bulfest 2026 di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja. Terlebih, kedua tarian yang dibawakan memiliki ikatan kuat dengan keluarga dan perjalanan hidup masing-masing maestro.
Herawati, misalnya, merupakan anak angkat maestro Gong Kebyar asal Desa Jagaraga, Gde Manik.
Tari Trunajaya yang dibawakannya menjadi pengingat terhadap karya sang maestro yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.
Bagi Herawati, kesempatan tampil kembali membawa Tari Trunajaya menghadirkan perasaan yang sulit dirangkai dengan kata-kata. Ada kebahagiaan sekaligus keharuan karena dirinya seolah kembali bertemu dengan jejak seni yang ditinggalkan Gde Manik.
"Pokoknya tidak bisa diungkapkan sampai mau menangis. Teringat dengan beliau (Gde Manik), tarian ini sudah berkembang dan tidak pernah berhenti," ujar Herawati.
Ia mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk mempersiapkan penampilan di Bulfest. Tidak ada latihan khusus yang terlalu panjang. Pengalaman menarikan Trunajaya selama puluhan tahun membuat gerakan tersebut sudah melekat dalam dirinya.
Herawati bahkan pernah tampil sebagai penari legendaris dalam Pesta Kesenian Bali 2022 bersama penabuh dari Desa Jagaraga.
Karena itu, menjelang Bulfest kali ini, ia lebih banyak berlatih secara mandiri di rumah dan sesekali bersama anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.
Kecintaan terhadap tari juga bukan sesuatu yang baru tumbuh dalam dirinya. Herawati mengaku sudah mengenal dunia tari sejak kecil. "Ibu dari kecil, dari baru ingat. Dari SD mungkin ya sudah ingat," tuturnya.
Kini, ketika kembali dipercaya tampil di hadapan publik, ia justru melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk menyampaikan pesan kepada generasi muda.
"Harapan ibu mudah-mudahan generasi muda terus mengembangkan tari ini ke depan dan selalu bersemangat untuk menarikan Tari Trunajaya supaya tarian ini tidak pernah hilang," katanya.
Semangat serupa juga terlihat dari Prof. Ni Luh Sustiawati. Maestro Tari Wiranjaya asal Desa Kedis itu tampil membawa karya yang memiliki ikatan darah dengan dirinya.
Tari Wiranjaya merupakan karya kakeknya, Bapak Ketut Merdana, yang kemudian diteruskan oleh ayah kandungnya, Bapak Putu Sumiasa. Sustiawati sendiri sudah menarikan Wiranjaya sejak duduk di sekolah dasar.
"Perasaan tyang sangat bahagia dan sangat senang, gembira, luar biasa. Karena satu, saya bisa menarikan tari kakek saya, Bapak Ketut Merdana," ungkap Sustiawati.
Bagi Sustiawati, menarikan Wiranjaya bukan sekadar menjalankan sebuah pertunjukan. Ada tanggung jawab sebagai keturunan seniman untuk menjaga warisan tersebut tetap berada pada jalur yang benar.
Ia berharap generasi penerus tidak hanya rajin mempelajari gerakan tari, tetapi juga memahami pakem yang menjadi identitas karya para seniman terdahulu.
"Jika memang generasi penerus belum paham dengan pakem, boleh ditanyakan sama keturunannya. Sehingga pakem-pakem yang sudah diciptakan oleh seniman dulu, leluhur kami, Pak Ketut Merdana, bisa dipelajari dengan baik dan tepat," jelasnya.
Sustiawati memang tumbuh di tengah keluarga seniman. Dunia seni sudah dikenalnya sejak lahir. Perjalanan itu kemudian berlanjut hingga pendidikan formal dan dunia akademik. Saat ini, ia masih aktif sebagai guru besar di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali.
Karena sudah mendarah daging sejak kecil, Sustiawati mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk mempersiapkan diri tampil di Bulfest. Begitu Dinas Kebudayaan Buleleng menghubunginya, ia langsung menyatakan kesanggupan.
"Untuk Wiranjaya itu kan sudah mendarah daging dari kecil. Begitu dikontak oleh Dinas Kebudayaan Buleleng untuk menari di Bulfest, saya sangat senang, dan saya bilang sanggup. Sulit cari kesempatan ini," katanya.
Di balik kegembiraan dua maestro tersebut, ada satu sosok yang seharusnya melengkapi penampilan para penari legendaris Buleleng. Dia adalah Luh Menek, 88, maestro Tari Palawakya sekaligus salah seorang murid Gde Manik.
Namun, usia dan kondisi kesehatan membuat Luh Menek harus absen dari panggung Bulfest. Ia mengaku baru sekitar sebulan terakhir tidak menari karena sakit. Padahal, sebelumnya ia masih rutin menari sekaligus mengajar.
"Saya karena ada punya sakit, akhirnya hari ini saya tidak bisa menari. Tapi saya masih punya semangat untuk menari," ujarnya.
Meski tidak dapat hadir di panggung, semangat Luh Menek terhadap kesenian Buleleng tidak ikut surut. Ia melihat perkembangan kesenian di Buleleng semakin baik, ditandai dengan semakin banyaknya sanggar yang tumbuh dan berkembang.
Kini, aktivitas mengajar lebih banyak ia serahkan kepada anak buahnya. Namun, Luh Menek masih membuka diri untuk mengajarkan tari kepada tamu-tamu yang datang ke sanggarnya dan ingin melihat bentuk tari Buleleng yang asli.
"Umur saya sudah 88 tahun. Kurang lebih baru sebulanan ini tidak menari karena ada sakit, kalau sebelumnya ya selalu menari," tuturnya.
Tiga nama itu—Herawati, Sustiawati, dan Luh Menek—seolah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan kesenian Buleleng. Dua di antaranya masih mampu menjejak panggung. Satu lainnya harus menyaksikan di tengah-tengah kerumunan penari karena kondisi kesehatan.
Namun pesan mereka sama, bahwa kesenian tidak boleh berhenti di tangan satu generasi.
Sustiawati bahkan menitipkan pesan khusus kepada para pengajar tari, baik di sekolah, sanggar maupun lingkungan keluarga.
Pakem tari dan tabuh khas Buleleng, menurut dia, harus benar-benar dipahami sebelum diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia mengaku masih menemukan sejumlah perubahan yang tidak sesuai dengan pakem, termasuk dalam penggunaan kostum Tari Wiranjaya. Menurutnya, kostum tidak bisa dilepaskan dari konsep karya yang dibuat oleh Ketut Merdana.
"Kostum ada sedikit perubahan. Yang asli kan kayak saya ini pakai gelungan. Karena gelungan itu sangat terbatas, bolehlah kayak pakai perucut, kayak udeng pakai petitis, boleh itu. Tapi mohon maaf gelungannya, jangan sampai tidak gelungan asli," ujarnya.
Sebab, Tari Wiranjaya memiliki konsep pewayangan yang menggambarkan Nakula dan Sahadewa belajar memanah.
Di tengah perkembangan zaman, para maestro itu tidak sedang meminta generasi muda kembali ke masa lalu. Mereka justru ingin karya lama tetap hidup dengan identitas yang tidak tercerabut.
Sebab bagi mereka, setiap gerakan bukan sekadar gerakan. Ada nama pencipta, ada sejarah, ada keluarga, dan ada perjalanan panjang kesenian Buleleng yang ikut menempel di dalamnya.
Mereka sama-sama mengingatkan bahwa selama masih ada generasi yang mau belajar dan mencintai, tari Buleleng tidak akan pernah benar-benar berhenti. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng