Dulu Hidup di Lontar, Kini Bahasa Bali Hadir di TikTok dan Instagram

Admin • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 09:28 WIB
KONSERVASI: Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Buleleng melakukan konservasi terhadap koleksi lontar milik warga di Desa Suwug.
KONSERVASI: Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Buleleng melakukan konservasi terhadap koleksi lontar milik warga di Desa Suwug.

 

DAHULU bahasa Bali hidup dalam percakapan sehari-hari. Ia terdengar di dapur, di bale banjar, di sawah, hingga dalam setiap kegiatan adat dan keagamaan. Aksara Bali pun ditorehkan dengan tekun di atas lembaran lontar, menyimpan beragam pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kini zaman berubah.

Di tengah derasnya arus informasi yang mengalir tanpa henti melalui layar telepon genggam, bahasa Bali menghadapi tantangan baru. Generasi muda semakin akrab dengan bahasa yang digunakan di media sosial, gim daring, maupun berbagai platform digital. Sementara bahasa Bali perlahan mulai kehilangan ruang dalam percakapan sehari-hari.

Meski masih kerap terdengar dalam upacara adat dan kegiatan keagamaan, penggunaannya di kalangan generasi muda tidak lagi seintens beberapa dekade lalu. Perubahan pola komunikasi membuat bahasa Bali harus beradaptasi agar tidak semakin jauh dari para pewarisnya.

Di tengah kondisi tersebut, para penyuluh bahasa Bali di Kabupaten Buleleng memilih untuk tidak tinggal diam.

Mereka sadar, menjaga bahasa Bali tidak cukup hanya dilakukan melalui ruang-ruang pembelajaran konvensional. Bahasa Bali harus hadir di tempat yang kini menjadi ruang hidup generasi muda, yakni di dunia digital.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, Putu Pertama Yasa, mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan sekadar mempertahankan keberadaan bahasa Bali, melainkan bagaimana membuatnya tetap relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat.

Karena itu, para penyuluh mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi. Berbagai konten tentang bahasa, aksara, hingga sastra Bali secara rutin diproduksi dan disebarluaskan agar lebih mudah diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

“Untuk menjaga eksistensi bahasa Bali di tengah perkembangan zaman, kami berupaya membuat konten-konten edukasi bahasa Bali secara kontinyu melalui media sosial agar lebih dekat dengan generasi muda dan mudah diakses oleh masyarakat luas,” ujar Putu Pertama Yasa.

Namun perjuangan menjaga bahasa Bali tidak berhenti di dunia maya.

Di berbagai desa binaan, upaya pelestarian terus dilakukan secara langsung melalui beragam kegiatan pembelajaran. Salah satunya berlangsung di Desa Bestala.

Penyuluh Bahasa Bali Desa Binaan Bestala, Ketut Sidang Partayasa menjelaskan, bahwa pelestarian bahasa Bali dilakukan melalui berbagai program yang menyasar anak-anak hingga kalangan yowana atau generasi muda.

Mulai dari Kelompok Belajar Bahasa Bali bagi siswa sekolah dasar, pendampingan bahasa Bali untuk anak-anak taman kanak-kanak, hingga pelatihan bahasa, aksara, dan sastra Bali bagi para pemuda desa.

Selain itu, kegiatan pasraman dan kelompok belajar juga menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kembali bahasa dan budaya Bali kepada generasi penerus.

“Pelestarian bahasa Bali di desa binaan kami lakukan melalui Kelompok Belajar Bahasa Bali untuk siswa SD, pendampingan bahasa Bali bagi anak-anak TK, serta pelatihan bahasa, aksara, dan sastra Bali kepada yowana agar bahasa Bali tetap digunakan dan dicintai oleh generasi muda,” kata Ketut Sidang Partayasa.

Menurut Sidang Partayasa, masyarakat memberikan respons yang sangat positif terhadap program-program tersebut. Bahkan banyak warga berharap kegiatan serupa terus berlanjut karena dianggap mampu memperkuat identitas budaya di tengah derasnya pengaruh globalisasi.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi para penyuluh tidaklah ringan.

Mereka tidak hanya dituntut menguasai bahasa dan aksara Bali, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat. Di sisi lain, kehadiran media sosial, gim digital, hingga pengaruh industri pariwisata ikut membentuk pola komunikasi baru di kalangan generasi muda.

Padahal jauh sebelum dunia digital hadir, bahasa Bali telah menjadi rumah bagi berbagai pengetahuan penting masyarakat Bali.

Melalui aksara Bali yang ditulis di atas lontar, para leluhur mewariskan berbagai ajaran tentang sastra, agama, pengobatan tradisional, hukum adat, hingga nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga saat ini.

Sayangnya, tidak sedikit generasi muda yang kini mengalami kesulitan membaca dan menulis aksara Bali. Minimnya praktik dalam kehidupan sehari-hari membuat kemampuan tersebut perlahan mulai memudar.

Namun perubahan zaman tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman.

Justru di tengah perkembangan teknologi, bahasa Bali memiliki kesempatan untuk menemukan ruang hidup yang baru. Melalui konten digital, pasraman, kelompok belajar, hingga berbagai inovasi pembelajaran lainnya, bahasa Bali dapat diperkenalkan kembali dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini.

Selama masih ada yang menggunakan, mengajarkan, dan memperkenalkannya dengan cara-cara baru, bahasa Bali akan selalu memiliki kesempatan untuk tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Penulis: Gede Bagus Kusuma Wardana)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Pelestarian Bahasa Bali aksara bali bahasa bali buleleng budaya bali