Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Tradisi Megoak-goakan di Buleleng: Jadi Daya Tarik Warga, Simbol Semangat Kepahlawan Panji Sakti

Eka Prasetya • Senin, 31 Maret 2025 | 04:30 WIB
TRADISI: Tradisi megoak-goakan di Desa Panji, Buleleng.
TRADISI: Tradisi megoak-goakan di Desa Panji, Buleleng.

SUKASADA, RadarBuleleng.id – Usai keheningan Hari Raya Nyepi, nuansa semangat dan kebersamaan langsung terasa di sejumlah desa di Kabupaten Buleleng, Bali. 

Salah satu yang paling menyedot perhatian adalah tradisi megoak-goakan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada.

Tradisi unik ini digelar pada hari Ngembak Geni, atau sehari setelah Nyepi. Tepatnya Minggu (30/3/2025).

Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan terhadap Raja pertama Buleleng, I Gusti Anglurah Panji Sakti, yang dikenal sebagai tokoh pemersatu dan peletak dasar wilayah Buleleng di abad ke-17.

Meski tahun ini tradisi megoak-goakan berlangsung saat cuaca hujan lebat, tapi tidak menyurutkan semangat warga melakukan tradisi tersebut. Bahkan mereka semakin suka cita melakukan tradisi di bawah guyuran hujan. 

Tahun ini, tradisi megoak-goakan berlangsung meriah di empat lokasi utama: Lapangan Ki Barak Panji, Monumen Perjuangan Bhuana Kerta, Banjar Dinas Kembang Sari, dan Banjar Dinas Bangah.

“Empat titik itu yang paling ramai, tapi di hampir semua banjar juga digelar secara sporadis,” ungkap Kepala Desa atau Perbekel Panji, Made Mangku Ariawan alias Mangku Panji.

Baca Juga: Ngembak Geni, Warga di Buleleng Gelar Tradisi Nyakan Diwang

Sejak pukul 16.30 WITA, muda-mudi tampak mulai memadati area Lapangan Ki Barak Panji. Mereka berkumpul menunggu prosesi persembahyangan di Pura Pajenengan Panji Sakti, yang terletak sekitar 300 meter di selatan lapangan. Usai menerima tirta (air suci), barulah permainan dimulai.

Dalam permainan tradisional ini, para peserta—terdiri dari barisan muda-mudi—berperan layaknya barisan pasukan. Satu orang memimpin di depan, melindungi barisan, sementara yang lain berusaha menangkap “ekor” lawan. Gerakannya lincah, penuh tawa, tapi juga sarat makna.

Menurut Mangku Panji, tradisi ini bukan sekadar hiburan. Megoak-goakan adalah bentuk pelestarian nilai-nilai luhur warisan Panji Sakti, mulai dari kepemimpinan, persatuan, hingga semangat gotong royong.

“Sebelum permainan dimulai, wajib nunas tirta di Pura Pajenengan. Itu bentuk penghormatan dan simbol bahwa ini bukan sekadar permainan, tapi ritual budaya,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa megoak-goakan juga melambangkan perjuangan dharma melawan adharma—simbol bahwa kebaikan akan selalu menang atas keburukan. Sekaligus sebagai bentuk rasa syukur atas berkah dari Hyang Widhi.

“Kami ingin tradisi ini terus hidup. Karena dari sini, masyarakat belajar banyak nilai positif. Ini bukan hanya soal permainan, tapi warisan karakter dan jiwa kepemimpinan Panji Sakti,” tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #ngembak geni #hari raya #megoak-goakan #raja #panji sakti #tradisi #nyepi #buleleng #panji