Siswa SD Sering Kesurupan, Warga Pegayaman Gelar Doa Tolak Bala di Lokasi Proyek Shortcut

Francelino Junior • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:37 WIB
DOA BERSAMA: Warga Desa Pegayaman menggelar doa bersama di area proyek shortcut Jalan Raya Singaraja-Denpasar titik 9-10. Doa bersama digelar karena sering ada anak SD yang kesurupan. (istimewa)
DOA BERSAMA: Warga Desa Pegayaman menggelar doa bersama di area proyek shortcut Jalan Raya Singaraja-Denpasar titik 9-10. Doa bersama digelar karena sering ada anak SD yang kesurupan. (istimewa)

 

SUKASADA, RadarBuleleng.id – Proses pengerjaan proyek jalan pintas (shortcut) Singaraja-Mengwitani titik 9-10 diwarnai kisah mistis. 

Menyusul rentetan peristiwa fenomena kerauhan (kesurupan) yang menimpa sejumlah anak sekolah dasar (SD) setempat, ratusan warga Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, menggelar ritual doa tolak bala pada Rabu (30/9/2026).

Langkah spiritual ditempuh untuk memohon keselamatan, ketenangan warga sekitar, sekaligus memanjatkan doa agar proyek infrastruktur strategis tersebut berjalan lancar tanpa gangguan.

Tokoh dan Pemerhati Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, mengungkapkan bahwa keresahan masyarakat memuncak setelah beberapa anak SD di wilayahnya mendadak mengalami kesurupan secara beruntun semenjak pengerjaan proyek berlangsung.

”Ritual Tolak Bala ini dilaksanakan karena masyarakat resah setelah adanya peristiwa kerauhan yang menimpa anak-anak SD,” ungkap Suharto.

Prosesi doa bersama berpusat di areal pengerjaan proyek shortcut wilayah Banjar Dinas Kubu, Desa Pegayaman. 

Doa dipimpin oleh Guru Penghulu Imam Desa Pegayaman, H. Abdul Gofar Ismail, ratusan warga tampak khusyuk mengikuti jalannya ritual.

Di titik pertama pengerjaan proyek, massa membentuk formasi melingkar dan menghadap ke berbagai penjuru mata angin. 

Di bawah komando H. Abdul Gofar Ismail, gema adzan dilantunkan secara bersama-sama, disusul pembacaan doa khusus tolak bala demi mengusir balak serta gangguan gaib.

Usai merapalkan doa di lokasi pengerjaan jalan, rombongan melanjutkan pergerakan ke lokasi kedua menuju Mushola Misbahul Busthan yang berada di Banjar Dinas Kubu. 

Sambil melintasi medan jalan terjal, gema kalimat tahlil terus berkumandang sepanjang perjalanan hingga prosesi doa bersama ditutup secara khidmat.

Suharto menegaskan bahwa aksi doa bersama ini sama sekali bukan bentuk penolakan atau aksi protes warga terhadap pembangunan akses jalan anyar tersebut. 

Sebaliknya, warga Desa Pegayaman mendukung penuh keberadaan proyek negara tersebut dan berharap pelaksanaannya harmonis dengan kondisi lingkungan sekitar.

”Warga sama sekali tidak menolak atau membenci proyek ini. Justru kami mendukung penuh agar program ini berjalan sukses dan warga sekitar tenang tanpa gangguan. Harapan kami, tidak ada lagi kejadian kesurupan-kesurupan setelah ini,” pungkas Suharto. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Berita Buleleng Hari Ini Sukasada Buleleng Shortcut Singaraja Mengwitani Desa Pegayaman Buleleng Doa Tolak Bala