SUKASADA, RadarBuleleng.id – Kasus penyerangan monyet ekor panjang (MEP) terhadap siswa di SD Negeri 2 Wanagiri pada Rabu (7/10/2026) langsung direspons cepat oleh lintas instansi.
Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menggelar koordinasi lapangan untuk merumuskan langkah penanganan darurat dan jangka panjang.
Kepala Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, mengungkapkan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lokasi kejadian bersama pihak sekolah, Polsek Sukasada, BKSDA Bali, komite sekolah, serta orang tua korban.
Dari hasil koordinasi tersebut, Disdikpora Buleleng mengambil langkah lanjutan dengan menambah kawat pengaman pada bagian atap dan plafon bangunan sekolah yang saat ini tengah direnovasi.
”Bagian atas plafon sering dijadikan sarang kawanan monyet. Makanya dalam proses rehab ini kami tambahkan kawat pengaman agar mereka tidak bisa masuk ke area ruang kelas,” terang Surya Bharata, Kamis (8/10/2026).
Selain memperketat konstruksi fisik, Disdikpora Buleleng juga mempertimbangkan pengerahan petugas keamanan sekolah.
Pasalnya, area belakang sekolah masih terbuka tanpa pagar benteng, serta bersebelahan dengan eks kantor desa dan gedung BUMDes yang kerap kosong dan menjadi tempat berkumpulnya kawanan satwa liar tersebut.
Mengenai kondisi korban yang sempat disambar monyet saat keluar dari toilet sekolah, Surya Bharata memastikan siswa kelas 3 SD tersebut saat ini berada di rumah untuk memulihkan kondisi fisiknya.
”Korban sudah mendapatkan penanganan medis intensif serta suntikan Vaksin Anti Rabies (VAR) dari Puskesmas Sukasada. Dari sisi kegiatan belajar mengajar di SDN 2 Wanagiri, prosesnya tetap berjalan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko mengakui adanya serangan satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (MEP) di Desa Wanagiri.
Berdasarkan catatan kronologis BKSDA Bali, konflik antara warga dan kawanan monyet di kawasan perbukitan Wanagiri sejatinya telah terjadi berulang kali sejak tahun 2023 hingga 2026.
Dari hasil pemantauan dan inventarisasi awal petugas BKSDA di lapangan, teridentifikasi ada sekitar 35 individu MEP yang berkeliaran di sekitar lokasi kejadian.
”Ke depan BKSDA Bali akan melakukan pembinaan habitat dan pengendalian populasi sesuai dengan daya dukung lingkungannya. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung upaya mitigasi konflik satwa ini sebagai bagian dari pelestarian lingkungan dan pilar Tri Hita Karana,” pungkas Ratna. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng