Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dibangun Zipur Sepanjang 33 Meter, Jembatan Bailey Jadi Akses Menuju Urban Farming Buleleng

Francelino Junior • Minggu, 14 Januari 2024 | 02:30 WIB
Pembangunan jembatan bailey yang digunakan sebagai akses sementara menuju lahan milik Pemkab Buleleng. Nantinya, jembatan ini akan dibongkar kembali pada bulan Mei 2024.
Pembangunan jembatan bailey yang digunakan sebagai akses sementara menuju lahan milik Pemkab Buleleng. Nantinya, jembatan ini akan dibongkar kembali pada bulan Mei 2024.

SINGARAJA-Akses jembatan menuju lahan urban farming di Desa Banyuasri, Kecamatan Buleleng mulai terhubung meskipun masih dalam bentuk rangka.

Disebut dengan jembatan bailey, menjadi satu-satunya akses menuju lahan milik Pemerintah Kabupaten Buleleng yang berada di seberang Tukad Banyumala.

Selebihnya tidak ada akses menuju lahan tersebut, kecuali melewati sejumlah lahan pribadi milik warga dari arah selatan.

Dandim 1609/Buleleng, Letkol Kav Angga Nurdyana menjelaskan pembangunan jembatan ini dalam rangka membantu pembangunan urban farming di lahan seluas 1,9 hektare milik Pemkab Buleleng.

Jembatan bailey ini juga dibangun agar mobilitas pembangunan yang terhambat sungai dapat berjalan dengan lancar. Apalagi tujuan pengolahan ini untuk mengurangi inflasi di Bali utara.

“Jembatan ini dibangun untuk membantu mobilitas menuju lahan milik pemerintah yang akan dibangun dan ditanami cabai, untuk mengurangi inflasi,” ujar Letkol Angga ditemui Sabtu (13/1) sore di lokasi pembangunan.

Sementara itu, Komandan Kompi Bantuan Yonzipur 18/Yudha Karya Raksaka, Kapten Czi Odiliyan Timor menjelaskan jembatan ini memiliki lebar 6,7 meter dengan panjang 33 meter dan total beratnya mencapai 50 ton.

Jembatan bailey yang dibangun di atas Tukad Banyumala ini mampu dilewati kendaraan besar dengan bobot 20 ton. Dengan jumlah 11 petak dengan teknik pemasangan tertentu, membuat antar panel jembatan menjadi saling mengikat.

Sedangkan untuk mencapai lahan di seberang, jembatan yang sudah terpasang kemudian didorong menggunakan ekskavator sampai di titik yang sudah ditentukan.

“Dengan spesifikasi tersebut, dua kendaraan bisa melewati jembatan bailey ini sekaligus. Pemasangan sudah berlangsung selama tiga minggu, secara manual. Kami mengerahkan tenaga sebanyak 28 orang,” ujar Kapten Timor di sela-sela pengerjaan jembatan.

Jembatan ini diketahui milik Kodam IX/Udayana yang perawatan dan pengelolaannya berada di bawah Yonzipur 18. Aset ini disebutkan hanya ada tiga di Indonesia, salah satunya di Bali dan baru didapatkan tahun 2023 lalu.

Penggunaan jembatan ini tak hanya ditujukan untuk mobilisasi tentara saat masa perang, tetapi juga dalam digunakan untuk membantu masyarakat dan pemerintah di masa damai. Salah satunya untuk akses.

“Rencananya jembatan bailey ini dipinjam sampai bulan Mei. Setelah itu kami bongkar dan Pemkab Buleleng akan bangun jembatan permanen,” tutupnya. ***

Editor : Donny Tabelak
#Kodam IX/Udayana #pemkab buleleng #urban farming #dandim