Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cerita Ramadan: Masjid Agung Jami’ Singaraja, Bukti Toleransi di Buleleng

Francelino Junior • Minggu, 17 Maret 2024 | 02:10 WIB

 

Suasana malam hari di Masjid Agung Jami
Suasana malam hari di Masjid Agung Jami

Ada Umat Keturunan Puri Buleleng, Umat Islam Jaga Pesisir Saat Nyepi 

SINGARAJA-Bulan suci Ramadan 1945 Hijriyah sudah dimulai. Umat Islam mulai melakukan ibadah puasa sejak Selasa (12/3) lalu.

Berbicara umat Islam di Kabupaten Buleleng, tentu tidak lepas dari sejarang panjang yang berkaitan dengan Puri Buleleng. Masjid Agung Jami’ Singaraja pun menjadi saksi toleransi umat beragama di Bumi Panji Sakti.

Masjid Agung Jami’ Singaraja berada di Jalan Imam Bonjol Nomor 65, Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Masjid ini tampak megah dengan bangunan cukup khas, tentu saja cukup serupa dengan masjid lainnya. 

Berdirinya tempat ibadah orang Islam di tempat itu, memiliki cerita panjang. Humas Masjid Agung Jami’ Singaraja, Muhammad Agil mengatakan bila tanah yang kini berdiri masjid dulunya merupakan rawa-rawa, dan menjadi bagian dari Tukad Buleleng. 

Namun di sana ada sekepat, yang memang digunakan pada saudagar Islam yang berdagang dan mampir ke Pelabuhan Buleleng, untuk beribadah.

Dan dulunya, jukung bisa merapat sampai ke sekepat tersebut, karena tanah tersebut merupakan rawa-rawa.

“Sekitar tahun 1654, banyak saudagar muslim yang menggunakan sekepat itu untuk salat. Jadi pakai jukung bisa sandar ke sana, dulu ini rawa-rawa, bagian dari Tukad Buleleng. Justru masjid pertama itu Masjid Kuna yang ada di timur masjid ini,” jelas Agil kepada radarbuleleng.id

Pada tahun yang sama, ada ekspedisi yang dilakukan Sunan Parapen menuju ke Lombok. Ia pun singgah untuk menunaikan salat di sana.

Tetapi saat itu rombongannya sangat banyak, sehingga Sunan Parapen membabat sebagian hutan bambu di sekitar sana. 

Saat itu Sunan Parapen menemukan sebuah mimbar. Hal itu pun membuatnya kaget, yang menandakan sudah ada umat muslim yang menunaikan salat di sana sebelumnya. Sehingga berdiri surau bagi umat muslim di sana. 

Seiring berjalannya waktu pada tahun 1800-an, terjadi perang saudara di Buleleng. Hal ini membuat banyak keluarga Puri Buleleng diungsikan, salah satunya Anak Agung (A.A.) Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie, yang diungsikan ke wilayah warga muslim. 

“A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie diangkat sebagai anak dan didik oleh Syekh Muhammad Yusuf Saleh, yang kemudian masuk agama Islam,” lanjut Agil menceritakan. 

Lanjut pada tahun 1830, mulai tercetus wacana pembangunan masjid baru, mengingat saat itu jumlah umat muslim di pesisir Buleleng mulai bertambah. Sehingga Masjid Kuna mulai tidak bisa menampung umat saat ibadah hari besar. 

Atas hal itu, A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie lalu memohon kepada saudaranya yakni A.A. Ngurah Ketut Jelantik Polong, yang saat itu menjadi Raja Buleleng, perihal pembangunan masjid baru.

Tetapi permohonan itu tidak langsung diindahkan, karena pada tahun 1835 baru diamini pendirian masjid itu.

Hal ini karena ada beda pendapat antara umat muslim saat itu. Ada yang setuju dengan pembangunan masjid baru, dan ada yang menolaknya.

“Pembangunan dilakukan sekitar tahun 1840. Berdasarkan tulisan di ukiran pintu masjid, pembangunan selesai pada tahun 1290 Hijriyah atau sekitar tahun 1868,” sambung Humas Masjid Agung Jami’ Singaraja itu. 

Agil melanjutkan, dalam pembangunan Masjid Agung Jami’ Singaraja ini, tidak hanya melibatkan masyarakat yang beragama Islam saja, tetapi ada juga campur tangan dari Puri Buleleng.

Secara umum, bangunan dikerjakan umat muslim, tetapi untuk ukiran dan pintu masuk dikerjakan pengrajin yang didatangkan langsung Puri Buleleng. 

“Ketika dibangun, keterlibatan Puri Buleleng luar biasa. Ditandai dengan pintu gerbang milik Puri Buleleng yang dipindahkan dan diletakkan sebagai pintu masuk masjid. Ini jadi simbol menyama braya di Buleleng. Sehingga menyatakan, kami bagian dari keluarga Puri Buleleng,” terangnya.

Simbol menyama braya antar umat Islam dan Hindu di Buleleng tak berhenti di situ saja. Agil mengungkapkan, bila dulunya mereka ikut menjaga wilayah pesisir pantai di Pelabuhan Buleleng saat Hari Suci Nyepi. 

Hal ini untuk mengelabuhi Belanda yang saat itu sering memantau di wilayah Laut Bali. Sehingga, Belanda mengira di Buleleng ada keramaian, meskipun di tengah kota saat itu tengah sepi karena Nyepi. 

“Dulu ada bendera kuning sebagai penanda antara wilayah Islam dan Hindu, tetapi saat Nyepi saja. Itu antara Kampung Kajanan dan Banjar Bali, kami tidak boleh lewat. Kami sebagai tameng saudara Hindu saat Nyepi, untuk kelabuhi Belanda, seolah-olah Buleleng tetap ramai, meski sebenarnya saat itu Nyepi,” ungkap Agil. 

Hingga saat ini, Masjid Agung Jami’ Singaraja tetap eksis dan menjadi masjid sentral di Kabupaten Buleleng. Apalagi tempatnya yang berada di tengah Kota Singaraja. 

Bahkan keluarga Puri Buleleng pun masih melakukan kunjungan ke Masjid Agung Jami’ Singaraja, maupun sebaliknya dari warga Kampung Kajanan yang berkunjung ke Puri Buleleng. 

Diketahui juga, keturunan dari A.A. Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie masih tinggal di dekat Masjid Agung Jami’ Singaraja.

Secara identitas, nama mereka sudah berubah seperti nama umat Islam pada umumnya. Tetapi di Kampung Kajanan, mereka juga memiliki nama Bali yang berawalan Gusti. ***

Editor : Donny Tabelak
#puri buleleng #bulan suci ramadhan #toleransi agama #masjid agung