SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Permintaan maaf pemerintah terhadap insiden yang mengecewakan para seniman tradisi, khususnya di Buleleng, akhirnya diterima.
Meski begitu, seniman Buleleng ingin mempertemukan kedua sekaa gong legendaris yang terlanjur ngambul saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420.
Kedua sekaa itu adalah Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga dan Sekaa Gong Kebyar Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan Desa Adat Buleleng.
Para seniman berencana mempertemukan keduanya pada panggung yang sama dan setara. Sehingga penampilan gong mebarung benar-benar diwujudkan.
Penampilan mebarung antara Gong Kebyar Jaya Kusuma dan Gong Kebyar Eka Wakya sebenarnya sangat dinantikan.
Pada masanya, kedua sekaa ini bisa dibilang musuh bebuyutan. Apalagi pada awal 1930-an silam.
Terakhir kedua kedua sekaa tersebut tampil mebarung pada tahun 1951 silam.
Setelah lebih dari 70 tahun, kedua sekaa tersebut akhirnya kembali bertemu dan siap tampil mebarung saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 pada Sabtu (30/3/2024) lalu.
Namun kedua sekaa itu ngambul dan memilih batal tampil. Para seniman merasa diperlakukan kurang pantas.
Panitia dianggap tidak memberikan porsi yang layak kepada seniman tradisi. Ditambah lagi seniman lingsir tidak mendapat posisi yang sesuai.
Menindaklanjuti insiden yang terjadi pada Sabtu lalu, para seniman tradisi di Buleleng berinisiatif melakukan Rembuk Seniman di Warung Pesor, Kelurahan Beratan, Buleleng, pada Senin (1/4/2024) malam lalu.
Rembuk itu dihadiri para seniman tari, seniman tabuh dan karawitan, maupun pedalangan yang ada di Buleleng.
Salah satu poin yang mengemuka dalam rembuk tersebut, para seniman berharap kedua sekaa tetap bisa tampil mebarung.
“Sesuai masukan teman-teman, kami ingin mempertemukan Sekaa Gong Jagaraga dan Eka Wakya, pentas mebarung,” kata Pimpinan Sanggar Padepokan Seni Dwi Mekar, Gede Pande Satria Kusumayuda alias Olit.
Olit menyatakan dirinya akan berkoordinasi dengan sesepuh seni yang ada di Sekaa Gong Eka Wakya maupun Sekaa Gong Jaya Kusuma Jagaraga.
“Apakah nanti lewat bentuk pementasan sederhana atau seperti apa,” ujarnya.
Terkait dengan insiden yang terjadi pada Sabtu (30/3/2024) lalu, Olit menyatakan para seniman sudah sepakat tidak memperpanjang lagi hal tersebut.
Sebab pemerintah melalui Dinas Kebudayaan Buleleng telah menyampaikan permintaan maaf secara sekala dan niskala.
Mereka berharap iklim kesenian di Buleleng kembali kondusif. Seniman juga berharap pemerintah bisa menghormati seniman tradisi.
“Jangan lupa kedepan tidak boleh terjadi lagi. Harus ada ketegasan. Pemerintah juga harus membuat program yang sesuai dengan takaran seni,” demikian Olit.
Seperti diberitakan sebelumnya, sekaa gong kebyar legendaris di Buleleng ngambul. Sekaa gong itu adalah Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga, serta Sekaa Gong Kebyar Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan.
Keduanya semestinya tampil saat malam penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 di Lapangan Bhuana Patra pada Sabtu (30/3/2024) lalu.
Mereka memilih turun panggung, karena kecewa. Para seniman merasa diperlakukan tidak pantas karena pementasan mereka tidak tuntas. Melainkan disela oleh penampilan band dan fashion show.
Selain turun dari panggung, para seniman juga langsung mengangkut perangkat gamelan mereka, lalu angkat kaki dari lokasi pementasan.
Aksi itu merupakan puncak kekecewaan para seniman terkait manajemen pementasan saat HUT Kota Singaraja ke-420.
Terhadap peristiwa tersebut, pemerintah melalui Dinas Kebudayaan Buleleng menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada para seniman di Banjar Paketan dan Desa Jagaraga.
Pemerintah juga melakukan upacara guru piduka di Pura Pengaruman Banjar Paketan dan Pura Desa Jagaraga, sebagai bentuk permintaan maaf secara niskala atas insiden yang terjadi pada penutupan HUT Kota Singaraja ke-420. (*)
Editor : Eka Prasetya