SINGARAJA-Bulan suci Ramadhan 1445 Hijriah tak terasa akan segera berakhir. Selama menjalankan puasa, tentu banyak kuliner khas yang selalu muncul.
Salah satunya Bubur Kajanan, bubur berbuka ala Masjid Agung Jami’ Singaraja.
Bubur Kajanan sebenarnya mirip seperti bubur pada umumnya, karena berbahan dasar beras ditambah bumbu-bumbu seperlunya.
Tetapi yang membedakan, bubur ini merupakan makanan khas Arab.
Humas Masjid Agung Jami’ Singaraja, Muhammad Agil menerangkan kepada Radar Bali, bubur ini sudah ada sejak lama di wilayah Kelurahan Kampung Kajanan.
Dan memang menjadi makanan khas di masjid tersebut.
Pemilihan bubur khas Arab, lantaran dulunya di wilayah tersebut banyak orang-orang Islam keturunan Arab.
Namun, pembuatan bubur ini terakhir kali terjadi sekitar tahun 1900-an. Kemudian dibangkitkan kembali pada tahun 2020.
Uniknya, meskipun buburnya khas Arab, tetapi bumbunya kini menggunakan bumbu khas Bali, basa genep.
Hal ini terjadi, jelas Agil, karena menyesuaikan dengan lidah umat Islam di Buleleng.
“Terakhir dulu sekitar tahun 1900-an, dimulai lagi tahun 2020 saat Covid-19. Bedanya sekarang pakai bumbu genap, menyesuaikan dengan lidah orang di sini. Jadi ada akulturasi kuliner Bali dan Arab,” jelasnya pada Sabtu (6/4) sore.
Agil menceritakan, saat pertama kali dihidupkan kembali, banyak umat Islam yang protes karena perbedaan rasa di lidah mereka.
Mengingat pada awalnya, bubur Kajanan dibangkitkan kembali dengan ciri khas Arab.
Seperti melibatkan rempah-rempah seperti isen, kayu manis, sereh, kapulaga, merica, jinten, dan cengkeh.
“Pertama kali buat lagi pada tahun 2020, banyak yang protes masalah rasanya. Kemudian chef kami, Khoirudin, mencoba mengolah dengan basa genep. Akhirnya cocok be,” sambung Agil menceritakan.
Dalam pembuatan bubur ini, Agil mengungkapkan pihaknya bisa membuat sampai 200 cup satu hari. Sekali memasak, mereka menghabiskan 7-8 kilogram beras.
Memasaknya pun dominan dilakukan para lelaki, karena membutuhkan tenaga ekstra untuk mengaduk bubur selama tiga jam secara terus menerus agar tidak gosong. Ini juga agar bumbu meresap sempurna ke dalam bubur.
Bahkan, kata Agil, kini kuliner khas tersebut sudah diberikan brand dengan nama Bubur Kajanan Iftar.
“Kami juga melibatkan remaja, agar tradisi, budaya, dan kuliner kami tidak hilang begitu saja,” tambahnya.
Meski kuliner ini khas Ramadhan dan dibuat di masjid, Agil menegaskan bubur Kajanan boleh dinikmati oleh semua kalangan umat beragama.
Asalkan, lanjut Agil, membawa tempat masing-masing, untuk mencegah kehabisan bubur yang sudah dikemas.
“Non Muslim juga boleh ikut datang dan menikmati bubur Kajanan, jadi terbuka untuk siapa saja. Asalkan datang bawa tempat, takutnya yang sudah dalam cup habis, atau mau tambah boleh juga,” pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak