SINGARAJA-Sopir angkutan pariwisata di kawasan Lovina menginginkan sebuah wadah organisasi resmi, yang dapat menampung dan meneruskan semua aspirasi dan keluh kesah mereka.
Hal ini bertujuan, agar pendapatan mereka tidak menurun dan kalah bersaing dengan transportasi online.
I Kadek Sarjana, salah satu sopir angkutan pariwisata mengatakan terbentuknya organisasi dapat membawa efek positif bagi mereka.
Apalagi dengan berkembangnya transportasi online sampai ke kawasan Lovina, membuat Sarjana dan kawan-kawannya mulai kekurangan pendapatan.
Persaingan tarif antara angkutan konvensional dan online ditakutkan juga membuat citra pariwisata Lovina buruk.
Terlebih kata Sarjana, para pengemudi transportasi online rata-rata kurang terampil berbahasa Inggris.
“Adanya transportasi online belakangan ini, secara otomatis pendapatan tiyang langsung berkurang karena perang tarif, harganya jauh sekali, terlampau di bawah. Kalau bahasa Inggrisnya kurang, tentu juga berdampak pada transportasi lainnya,” katanya ditemui usai pertemuan di Lovina pada Senin (6/5) pagi.
Sementara itu, salah satu pelaku pariwisata juga fasilitator, Nyoman Arya Astawa mendukung penuh adanya organisasi untuk para sopir angkutan pariwisata itu.
Hal ini untuk menyatukan komponen dan berkolaborasi demi pariwisata Buleleng yang lebih baik. Terlebih yang baru kembali beranjak dari pandemi Covid-19.
Arya Astawa tak menampik bila para sopir angkutan dari kawasan Desa Pemaron sampai wilayah Kecamatan Banjar ini, mengharapkan peran pemerintah dalam menangani setiap permasalahan pariwisata, salah satunya perang tarif antara angkutan yang menjadi masalah klasik.
Ia juga berharap ada diskusi bersama sehingga dapat memberikan keputusan terbaik bagi para sopir angkutan pariwisata di Lovina.
“Perlu ada wadah untuk menampung aspirasi mereka, supaya ada satu tujuan yang sama untuk pariwisata di Buleleng. Terlebih banyak isu mengenai perang tarif, isu angkutan konvensional dan online. Supaya tidak ada tumpang tindih,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara menyebutkan sebelumnya memang ada paguyuban transportasi Lovina, tetapi belum berbadan hukum yang jelas.
Mengenai permasalahan di bidang transportasi wisata Lovina, Dody mengaku akan melakukan kajian aspek yuridis formal kemudian mencari solusi untuk jalan keluar keluhan tersebut.
“Masalah persaingan harga karena angkutan online lebih murah tarifnya dari konvensional, yang menjadi keluhan masyarakat Buleleng yang bergerak di bidang transportasi wisata Lovina, akan kami kaji dari aspek yuridis formal, kemudian dicarikan solusi jalan keluar,” kata Dody dikonfirmasi pada Senin (6/5) siang.
Dody melanjutkan, selama ini transportasi di kawasan Lovina sudah bekerja sama dengan hotel-hotel yang ada. Sehingga bila ada tamu yang menginginkan transportasi ke pihak hotel, maka akan didatangkan transportasi konvensional.
“Kalau transportasi online, karena tamu sebagian sudah memiliki aplikasi angkutan online di HP, tidak bisa kita batasi mereka. Karena tamu memiliki keleluasaan untuk memilih angkutan sesuai keinginan,” tambahnya.
Ia berharap jika pembentukan organisasi transportasi angkutan pariwisata Lovina yang berbadan hukum terwujud, maka Dispar Buleleng bisa mengajak mereka untuk ikut berkolaborasi dalam pembangunan pariwisata Bali utara.
Terlebih saat ini, Dispar Buleleng tengah menata ulang pengelolaan wisata melihat lumba-lumba di kawasan pantai Bali utara. ***
Editor : Donny Tabelak