Seorang kepala desa di Buleleng, membagikan makan siang gratis bagi anak-anak di desanya. Syaratnya hanya satu. Anak-anak tidak boleh bermain gadget sementara waktu. Apa sebenarnya motivasinya?
MINGGU (2/6) pagi, suasana di Balai Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, terlihat ramai anak-anak berbagai usia. Mereka sudah mulai berdatangan sejak pukul 07.30 pagi.
Anak-anak itu kemudian bersenda gurau dengan rekan-rekan usianya. Ada pula yang sedang sibuk bermain kejar-kejaran.
Tak lama kemudian, Perbekel (Kepala Desa) Banyupoh, Putu Sukerata datang. Dia mendampingi beberapa relawan di bidang pendidikan.
Dengan sigap anak-anak itu berkumpul. Mereka kemudian berbaris dengan tertib. Anak-anak tersebut kemudian menyimak dengan seksama materi yang disampaikan para relawan. Pagi itu, seorang guru dari SDN 1 Banyupoh datang menyampaikan materi tentang permainan tradisional.
Anak-anak diajak melakukan berbagai permainan tradisional Bali yang menyenangkan. Seperti gobak sodor, meong-meong, dan beberapa permainan tradisional lainnya. Selepas bermain, mereka pun mendapat jatah sebungkus nasi yang dibagikan secara gratis.
Baca Juga: Ratusan Perbekel di Buleleng Bertemu Giri Prasta di Badung, Benarkah hanya Bahas Hibah?
Kegiatan itu sudah dilakukan sejak Desember 2023 silam. Setiap minggu, anak-anak akan berkumpul di balai desa untuk bermain bersama, serta makan siang bersama.
Menu makan siang bervariasi. Yang pasti ada sayur mayur, tempe, dan tahu. Terkadang berisikan telur, terkadang ikan atau daging ayam. Semuanya berasal dari kantong pribadi kepala desa dan istrinya.
Perbekel Banyupoh, Putu Sukerata mengatakan, ide memberikan makan siang gratis itu bermula saat ia menjabat sebagai kepala desa untuk kedua kalinya. Dia dilantik sebagai perbekel pada 29 November 2023.
Sebenarnya Sukerata sudah pernah menjadi Perbekel Banyupoh pada periode 2011-2017. Pada Pemilihan Perbekel tahun 2017, dia memutuskan tidak mencalonkan diri. Selanjutnya pada 2023, dia memilih kembali maju sebagai calon perbekel.
Nah setelah dilantik, dia pun kembali beraktivitas di balai desa. Baik itu pada hari kerja maupun hari libur, dia selalu menyempatkan diri datang ke kantor desa. Kebetulan balai desa dan kantor desa, letaknya bersebelahan.
Pada Minggu pagi di awal bulan Desember, dia mendapati balai desa ramai dengan anak-anak usia sekolah dasar. Kendati ramai, mereka tidak berkomunikasi dengan rekan-rekannya. Karena suntuk dengan gadget masing-masing.
“Saya lihat anak-anak itu bukan cuma 1-2 jam saja di balai desa. Ada yang sampai bawa charger, biar bisa main HP sampai sore. Karena kan di balai desa memang ada fasilitas wifi gratis,” ujarnya.
Sukerata pun punya ide. Dia meminta agar anak-anak berkumpul di balai desa pada minggu berikutnya. Dia menjanjikan makan siang gratis kepada anak-anak yang datang ke balai desa.
Iming-iming itu membuat anak-anak tertarik. Pada Minggu berikutnya ada sekitar 20 orang anak yang datang.
Sukerata pun memenuhi janjinya membawakan makan siang gratis. Selain makan siang gratis, dia juga menggandeng dua orang relawan.
Dia memberi tantangan kepada anak-anak yang hadir. Mereka dilarang memegang gadget mulai pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Mereka harus menyimak materi permainan tradisional dari relawan. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan makan siang gratis.
Upaya itu pun bersambut. Awalnya anak-anak bermalas-malasan, namun lama-lama mereka justru antusias mengikuti kegiatan tersebut.
“Awalnya hanya 20 orang yang datang, kalau sekarang rata-rata 50 orang yang datang setiap Minggu,” ungkap Sukerata.
Kegiatan bermain bersama ini dirancang sangat santai. Anak-anak Desa Banyupoh bebas memainkan permainan tradisional sesuai dengan keinginan mereka. Di sela-sela bermain, diselingi dengan pemberian petuah nilai-nilai kemanusian. Petuah dan nasihat itu diberikan langsung oleh Perbekel Sukerata.
“Tidak ada yang terlalu formal, intinya memberikan motivasi dan petuah sehari-hari seperti sopan santun, menghormati orang tua dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya,” ceritanya.
Sukerata mengungkapkan, menu makan siang gratis itu disiapkan oleh istrinya. Uangnya bersumber dari kantong pribadi. Sekali memasak, ia harus menyiapkan 5-6 kilogram beras. Belum lagi sayur dan lauk pauk.
Kendati biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, dia mengaku merasa senang melihat anak-anak lepas dari gadget, walau hanya sejenak. Ia pun berkomitmen meneruskan program tersebut, sepanjang dirinya masih menjabat sebagai kepala desa.
“Ya walaupun hanya seminggu sekali ini jadi hiburan juga bagi mereka dan sedikit mengurangi kecanduan gadget,” demikian Sukerata. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya