Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Komang Anik Sugiani, Wanita Buleleng Peraih Penghargaan Kalpataru

Antara • Rabu, 12 Juni 2024 | 22:47 WIB

 

Pegiat lingkungan Komang Anik Sugiani menunjukkan penghargaan Kalpataru 2024 kategori Perintis Lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Pegiat lingkungan Komang Anik Sugiani menunjukkan penghargaan Kalpataru 2024 kategori Perintis Lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Wanita asal Buleleng, Komang Anik Sugiani berhasil meraih penghargaan Kalpataru.

Penghargaan itu ia terima dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, pada Rabu (5/6/2024) pekan lalu.

Dia berhak meraih penghargaan tersebut berkat kerja kerasnya melakukan advokasi dalam pengelolaan sampah plastik.

Sebagaimana dikutip dari ANTARA, Wanita asal Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan itu telah mempelopori upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan di desanya dengan mendirikan Yayasan Project Jyoti Bali.

Sesuai dengan namanya, Jyoti dalam bahasa Sansekerta berarti sinar. Yayasan itu bergerak mengedukasi masyarakat terkait lingkungan, pendidikan, sosial budaya, hingga ekonomi.

Kegiatan utamanya adalah melakukan pemilahan, pengelolaan, dan pengolahan sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomi melalui bank sampah Sahabat Jyoti.

Tak hanya itu, Anik juga merintis eco enzim untuk pertanian dan wisata tanpa sampah plastik di ekowisata air terjun Kebo Iwa di Desa Mengening.

Wanita yang kini menginjak usia 34 tahun itu gencar mengedukasi masyarakat di desa setempat. Sasarannya adalah anak-anak usia dini hingga remaja yang duduk di SMA maupun SMK.

Setiap hari Minggu, dia membuka kesempatan belajar tambahan kepada anak-anak sekolah di sana. Pelajaran yang diberikan adalah Matematika, bahasa Bali, dan bahasa Inggris. 

Selain itu, ada juga kegiatan pengembangan karakter anak seperti latihan tari setiap Senin dan kelas yoga yang dibuka pada Selasa.

Belum lagi kelas lingkungan dan kebersihan yang dibuka setiap Rabu, kelas bela diri setiap Kamis dan Jumat, dan kelas seni budaya setiap Sabtu.

Semua kegiatan belajar itu dilakukan di halaman belakang rumahnya yang ada di Desa Mengening.

Tidak ada tarif yang dipatok. Mereka cukup “membayar” menggunakan sampah plastik. Baik itu tas kresek, botol bekas,  atau sisa makanan. Hingga kini ada 74 orang yang tergabung dalam kegiatan tersebut.

Yayasan itu juga menerima sampah-sampah yang dikirimkan warga setempat, tanpa memandang usia.

Pada momentum tertentu, yayasan akan menjemput sampah plastik ke rumah warga. Plastik yang dianggap tidak punya nilai ekonomi ditimbang dan dicatat sebagai tabungan. Nilainya antara Rp 200 hingga Rp 2.500 per kilogram.

Sampah berbahan plastik itu selanjutnya diolah menjadi produk atau barang bernilai ekonomi. Seperti ecobrick, bantal alas duduk, desain wajah, hingga material bangunan.

Untuk membuat ecobrick, plastik harus dalam keadaan bersih terlebih dahulu dan kering agar tidak ada mikroba yang masih menempel.

Plastik kemudian dimasukkan di dalam botol plastik bekas air mineral berukuran 600 mililiter, dan selanjutnya plastik ditekan menggunakan kayu dari bambu untuk memastikan kepadatan agar memenuhi botol dan tidak menyisakan ruang kosong.

Ecobrick pun siap disulap menjadi satu set empat tempat duduk, terdiri dari empat kursi dan satu meja yang memanfaatkan sekitar 226 botol ecobrick dengan total menggunakan sekitar 10 hingga 15 kilogram plastik.

Saat ini, produksi terbantu dengan kehadiran satu unit mesin pencacah yang disumbang oleh salah satu perusahaan badan usaha milik negara (BUMN).

Sebelumnya, ia harus memotong plastik itu secara manual menggunakan gunting, sehingga tidak efektif, baik dari segi waktu dan tenaga.

Kini, satu botol ecobrick dapat dibuat dalam waktu sekitar 15 menit, dibandingkan sebelumnya dengan cara manual membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Untuk membuat kursi, masing-masing ecobrick itu kemudian dibentuk pola melingkar dengan direkatkan menggunakan lem kaca dan bagian tutup botol menjadi kaki kursi.

Sementara untuk meja, bagian tutup botol menjadi kaki meja dengan direkatkan menggunakan lem kaca dan dibuat pola segi lima, serta di atasnya ditambah kaca dan kain penutup untuk menambah estetika.

Masing-masing kursi menggunakan 19 botol ecobrick dan meja menggunakan 150 ecobrick berukuran 600 mililiter, dengan rata-rata pengerjaan oleh empat orang memakan waktu sekitar lima hingga delapan hari.

Selain menjadi meja dan kursi, ecobrick juga dapat digunakan sebagai material bangunan yang dapat menjadi alternatif pengganti batu bata.

Di taman belajar yayasan itu sudah menggunakan botol ecobrick berisi sampah plastik untuk membuat media menanam tanaman yang digabungkan dengan campuran semen dan tanah liat.

Produk lain yang diproduksi dari limbah plastik itu adalah bantal alas duduk menggunakan cacahan plastik yang dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga di desa setempat.

Setiap hasil produksi, misalnya bantal alas duduk, ibu-ibu rumah tangga yang mengerjakan mendapatkan tambahan pemasukan rata-rata Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per produksi bantal.

Sementara desain wajah menggunakan plastik, dikerjakan oleh pelajar dengan cara menempelkan potongan-potongan kemasan plastik dengan pola tertentu, menyesuaikan sketsa tokoh yang diinginkan.

Pelajar yang memproduksi juga mendapatkan tambahan uang sebesar Rp100 ribu per desain.

Sisanya, pendapatan itu digunakan untuk biaya operasional, misalnya membayar transportasi dan honor tenaga relawan untuk mengajar. Meskipun para relawan enggan menerima honor dari yayasan tersebut.

Di sisi lain, pendapatan yang diterima juga dianggarkan untuk membantu biaya sekolah anak yang terancam putus sekolah di desa setempat.

Saat ini, sudah terdata ada empat anak untuk dibantu biaya pendidikannya, yakni setiap bulan sebesar Rp 250 ribu untuk pelajar SMP dan Rp 350 ribu untuk pelajar SMA.

Hingga 2023, pihaknya memberikan manfaat kepada 124 pelajar SD, SMP dan SMA, serta kepada ibu rumah tangga dan warga lanjut usia.

Tak hanya itu, tabungan di bank sampah itu juga dapat ditarik oleh warga saat periode tertentu, diantaranya saat Hari Raya Galungan atau menukar sampah plastik dengan kebutuhan pokok.

Misi sosial lainnya adalah melakukan safari ke 20 sekolah di Kabupaten Buleleng untuk melatih para pelajar membuat ecobrick. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#sampah plastik #lingkungan #kalpataru #wanita #buleleng