SINGARAJA-Penyebab tingginya angka pengangguran di Kabupaten Buleleng, disebut karena adanya gap informasi yang diterima masyarakat. Hal ini diungkap Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana.
Untuk diketahui, angka pengangguran di Buleleng berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (BPS) Provinsi Bali, di tahun 2023 ada sebanyak 17.051 orang.
Angka ini tertinggi di Bali, membuat Buleleng memimpin dalam banyaknya pengangguran di Bali.
Sementara Kota Denpasar berada di posisi kedua dengan jumlah 12.379 orang, lalu Kabupaten Gianyar dengan jumlah pengangguran 9.687 orang.
Data tersebut juga dibenarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Buleleng. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja Buleleng, Made Arya Sukerta merinci, pengangguran lulusan SD sebanyak 6.333 orang, SMP sebanyak 1.052 orang, dan SMA sebanyak 5.130 orang.
Kemudian pengangguran lulusan SMK ada sebanyak 3.692 orang, dan lulusan perguruan tinggi sebanyak 844 orang.
Bahkan ada juga pengangguran friksional yang terjadi di sejumlah perusahaan di Bali utara.
Kata Arya Sukerta, jumlah tersebut merupakan pengangguran terbuka, bukan yang tertutup atau tidak terdeteksi.
Lalu bagaimana tanggapan Pj Bupati Buleleng, tentang pengangguran di Bali utara?
Kata Lihadnyana, salah satu penyebabnya adalah informasi lowongan pekerjaan yang tidak sampai ke masyarakat.
Meski di satu sisi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng selalu berupaya meningkatkan daya serap tenaga kerja di Bali utara. Yang tujuannya, mengurangi angka pengangguran.
“Ternyata di perusahaan itu banyak membuka lowongan pekerjaan. Tapi terkadang masyarakat tidak mengetahui ada lowongan pekerjaan. Jadi ada gap informasi, kami harus akui ini,” kata Lihadnyana pada Sabtu (29/6).
Ia mengatakan, penyebab atau faktor pengangguran perlu dirumuskan secara komprehensif.
Alasannya, dengan mengurai faktornya, maka pemerintah dapat memiliki dasar dalam mengambil kebijakan untuk mengurangi angka pengangguran di Buleleng.
“Tidak serta merta dari aspek teknis semata. Mungkin kita lihat juga aspek sosial budaya. Maka masalah pengangguran ini harus diidentifikasi,” jelasnya.
Salah satu upaya, kata Lihadnyana, adalah dengan membuka job fair atau bursa kerja. Ini masih menjadi salah satu upaya dan bentuk penguraian masalah yang ampuh dari Pemkab Buleleng.
Karena dengan menggelar bursa kerja, setidaknya banyak perusahaan yang akan berpartisipasi, sehingga penyerapan tenaga kerja dari Buleleng dapat terjadi.
Seperti yang dilakukan Pemkab Buleleng melalui Dinas Tenaga Kerja, dengan menggelar Buleleng Job Fair di Gedung Mr. I Gusti Ketut Pudja di kawasan Eks Pelabuhan Buleleng pada 25-27 Juni.
Serta bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja untuk meningkatkan kualitas, khususnya di bagian kemampuan atau skill masyarakat Buleleng di dunia kerja. ***
Editor : Donny Tabelak