SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Buleleng, menggelar pameran arsip dan foto-foto jaman dulu alias jadul.
Pameran bertajuk “Foto-Dokumen NU Buleleng dan Benda Sejarah Muslim Bali Utara” itu berlangsung di sekretariat PCNU Buleleng yang terletak di Jalan Anggrek, Singaraja. Pameran berlangsung mulai Minggu (30/6/2024), hingga Selasa (2/7/2024).
Arsip dan foto tersebut dipamerkan untuk menunjukkan eksistensi PCNU Buleleng dalam membina umat.
Pameran itu juga sengaja digelar dalam rangka memperingati 70 tahun hari jadi PCNU Buleleng.
Berbagai macam benda bersejarah ditampilkan dalam pameran tersebut. Mulai dari arsip, foto, serta benda-benda peninggalan yang terkait dengan eksistensi muslim di Bali Utara.
Beberapa arsip diantaranya adalah Surat Keputusan (SK) pendirian PCNU Buleleng. Arsip yang terbit pada tahun 1954 itu ditemukan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
“SK pengesahan PCNU ini saya temukan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Kebetulan saya ke sana dan ketemu,” kata Ketua Panitia Pameran, Abdul Karim Abraham saat ditemui di Sekretariat PCNU Buleleng, Minggu (30/6/2024).
Selain arsip pengesahan PCNU Buleleng juga terdapat foto terbitan tahun 1968 yang terkait dengan aktivitas PCNU Buleleng.
Foto itu merupakan kegiatan belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) At Taufiq di Jalan Hasanuddin, Singaraja. Madrasah itu merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan NU.
Lebih lanjut Karim mengatakan, pameran itu sengaja digelar untuk mengumpulkan lagi arsip dan dokumen yang berserakan. Arsip-arsip tersebut selama ini tercerai berai.
Menurutnya cukup banyak arsip-arsip yang hilang. Diantaranya arsip sejak tahun 1954 hingga 1979. Padahal hal itu sangat penting untuk eksistensi NU.
Arsip-arsip tersebut diduga hilang karena NU kerap berpindah-pindah sekretariat. Biasanya sekretariat berpindah dari rumah pengurus yang satu ke rumah pengurus yang lain.
“Dampaknya arsip-arsip banyak yang tidak terselamatkan. Kami perlu waktu selama 2 tahun untuk mengumpulkan arsip dan dokumentasi yang berkaitan dengan NU Buleleng,” ungkap pria yang akrab disapa Iboy itu.
Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng, Putu Dewi Puspitawati mengapresiasi pameran arsip dan dokumentasi tersebut.
Menurutnya arsip-arsip bersejarah itu sangat penting bagi eksistensi sebuah organisasi. Terutama organisasi umat.
Dewi mengatakan DAPD Buleleng siap membantu PCNU Buleleng melakukan digitalisasi arsip.
“Nanti setelah digitalisasi, kami di dinas menyimpan, dari NU juga menyimpan. Sehingga arsip-arsip tua ini juga lebih aman,” ujarnya.
Selain memamerkan arsip dan foto dokumentasi juga dipamerkan sejumlah benda-benda bersejarah milik umat muslim di Buleleng.
Diantaranya benda berupa pedang, badik, dan trisula. Benda itu diyakini merupakan pedang milik prajurit kerajaan Mataram Islam yang dihadiahkan kepada Laskar Islam Kerajaan Buleleng pada abad ke-17. Pedang itu disimpan oleh keluarga Syamsul Hadi di Desa Tegallinggah, Buleleng.
Selanjutnya ada tongkat berbahan dasar pohon sawo. Tongkat itu merupakan warisan dari Abdul Bahir, salah seorang tokoh muslim di Desa Pegayaman. Tongkat itu disimpan oleh keturunannya, Ketut Muhammad Suharto.
Kemudian ada arsip berupa Al Quran tulis tangan yang merupakan arsip dari Masjid Agung Jami’ Singaraja.
Serta arsip berupa kitab peninggalan dari pendiri NU Buleleng, K.H. Muhammad Murtadlo. Sosok tersebut telah meninggal pada tahun 1974 silam. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya