SINGARAJA-Geliat musik di Bali utara mungkin jarang terdengar, tetapi patut juga untuk selalu diperhatikan.
Salah satu geliat musik itu ditunjukkan salah satu grup band bernama Eleeven Twentytwo, dengan mengeluarkan sebuah single berbahasa Inggris. Even streets are silent, but our hearts scream loud Every scars and tears, makes us going stronger.
Itulah sepenggal lirik single RISE yang ditelurkan band lokal dari Kabupaten Buleleng. Sebuah band yang diisi wajah-wajah generasi muda.
Band ini beranggotakan Joseph Extrada Neno atau Joseph (bassist), 24, I Made Krisna Febrian atau Krisna (drummer), 21, I Gede Wahyu Parama Sucipta atau Wahyu Sucipta (gitaris), 21, I Ketut Rama Pradipta atau Rama (gitaris), 22, dan Kadek Wahyu Juliarta atau Wahyu Juliarta (vokalis), 20.
Salah satu punggawanya, Joseph mengatakan bila band ini mengusung aliran Post-Hardcore/Metalcore.
Sehingga dalam bermusik, Eleeven Twentytwo memadukan elemen hardcore punk dan metal, yang kemudian menghasilkan musik yang energik, penuh distorsi, dan sarat dengan riff gitar yang kompleks.
Joseph melanjutkan, bila dengan genre ini mereka memiliki ruang untuk mengeksplorasi berbagai macam suara dengan tekniknya, serta menciptakan musik yang unik dan memiliki karakter.
“Kami ingin membuat musik yang penuh energi dan dapat mewakili emosi. Itulah mengapa kami para personel saling terhubung dan memutuskan membuat musik yang sarat makna,” katanya pada radarbuleleng.id pada Sabtu (6/7) siang.
Joseph yang tampil dengan ciri khas rambut kribonya itu mengungkapkan, bila band ini lahir dari pertemuan para personel yang merupakan mahasiswa Undiksha, dalam wadah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik.
Dari pertemuan tersebut, ternyata mereka memiliki kesamaan yang sama, yakni cinta akan musik yang keras. Mereka lantas sering bermain band bersama untuk acara-acara kecil.
Dengan keberanian dan tekad besar, Joseph, Krisna, Wahyu Sucipta, Rama, dan Wahyu Juliarta mulai mengasah kemampuan serta tampil di acara-acara musik besar di Buleleng. Meski belum menjadi bintang tamu utama.
Nama Eleeven Twentytwo lantas dipilih untuk menamai band mereka. Dengan filosofi waktu terbentuknya grup musik ini secara resmi, yaitu bulan 11 di tahun 2022. Tentu ini sangat menarik, mengingat nama band ini memadukan bulan dan tahun.
“Nama band kami diambil dari waktu terbentuknya para personel mulai merajut mimpi untuk bermusik di belantika musik Indonesia,” lanjut Joseph.
Tak hanya membentuk dan bermain di sejumlah panggung di Bali utara, Eleeven Twentytwo juga menciptakan single original, yang diberi judul RISE.
Single perdana berbahasa Inggris ini diluncurkan melalui media sosial mereka pada Jumat (5/7).
Single ini, lanjut Joseph, menceritakan seseorang yang tidak memiliki alasan untuk tetap menyerah dan kalah dengan keadaan. Tetapi harus bangkit tanpa rasa takut dari semua masalah yang dihadapinya.
“Ini menjadi manifestasi dari semangat pantang menyerah dan tekad untuk mencapai mimpi,” jelas Joseph. ***
Editor : Donny Tabelak