Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Singaraja Literary Festival Ajak Masyarakat Buleleng Cinta Kearifan Lokal

Francelino Junior • Minggu, 25 Agustus 2024 | 02:05 WIB
Penampilan saat pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 di kawasan Gedong Kirtya Singaraja. Festival ini mengajak masyarakat Buleleng untuk cinta akan kearifan lokal.
Penampilan saat pembukaan Singaraja Literary Festival 2024 di kawasan Gedong Kirtya Singaraja. Festival ini mengajak masyarakat Buleleng untuk cinta akan kearifan lokal.

SINGARAJAradarbuleleng.id - Masyarakat Buleleng diajak untuk mencintai kearifan lokal, yang telah ada secara turun temurun.

Hal ini ditegaskan dalam Singaraja Literary Festival (SLF) yang berlangsung sejak tanggal 23-25 Agustus di kawasan Gedong Kirtya Singaraja.

Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti mengatakan bahwa festival edisi kedua ini bertujuan untuk membangkitkan lagi semangat intelektual di Kota Singaraja.

Apalagi Buleleng memiliki Gedong Kirtya sebagai sumber dan gudang ilmu.

Katanya, SLF 2024 mengambil tema Dharma Pemaculan: Energi Ibu Bumi. Dharma Pemaculan diketahui nama salah satu lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya.

Bahkan lontar tersebut memuat tentang seluk beluk pertanian. Meski sejatinya lontar tersebut berbicara tentang hubungan manusia dengan semesta, alam, dan sesama manusia.

”Kami ingin menghidupkan intelektualisme. Singaraja banyak melahirkan intelektual yang banyak menyumbang ide dan gagasan luar biasa,” jelas Sonia.

Festival ini disebutkan berupaya mendokumentasikan potensi sastra dan intelektualitas di Singaraja pada masa lalu, saat ini, dan yang akan datang.

Yang mana pembahasan secara mendalam akan dialihkan ke media baru seperti pertunjukan teater, film, dan musikalisasi puisi.

Sonia berujar bahwa SLF 2024 menjadi jembatan penghubung antara pengetahuan masa lalu dan masa kini.

Serta sebagai wadah yang mempertemukan akademisi, seniman, budayawan, peneliti, pelajar, dan masyarakat.

”Perhelatan ini telah menjadi katalisator penyampaian identitas kebudayaan, hingga tempat berkolaborasi serta berinovasi,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika berpesan bahwa modernisasi dan kemajuan teknologi tentu akan berpengaruh pada lupanya masyarakat akan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki.

Apalagi Buleleng yang memiliki Gedong Kirtya patut berbangga. Karena semangat intelektualisme berakar dari tempat penyimpanan lontar dan buku-buku penting.

”Sebab banyak sekali nilai positif yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip kuno, dalam hal ini lontar yang tersimpan baik di Gedung Kirtya,” ujar Wisandika.***

Editor : Donny Tabelak
#kearifan lokal #disbud buleleng #Singaraja Literary Festival #festival