GEROKGAK, RadarBuleleng.id – PLTU Celukan Bawang dikabarkan segera melakukan pembangunan pembangkit tahap dua dalam waktu dekat.
Konon pembangkit listrik yang baru tidak akan menggunakan batu bara. Melainkan menggunakan gas alam dan hydrogen.
Ancang-ancang pembangunan pembangkit tahap dua itu terungkap saat pihak PLTU melakukan konsultasi publik di Kantor Perbekel Celukan Bawang, Rabu (4/9/2024).
Adapun konsultasi publik itu terkait dengan studi Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga gas uap dengan bahan bakar natural gas dan hidrogen alias PLTGHU-Hybrid.
Baca Juga: Inggris Ikut Investasi Proyek Listrik di Bendungan Titab, Buleleng. Apa Alasannya?
Dalam sosialisasi tersebut, perwakilan dari PLTU Celukan Bawang, Roni Agus Hartono mengatakan pengembangan itu mau tidak mau harus dilakukan.
Alasannya, keperluan listrik masyarakat Bali semakin meningkat. Bukan hanya untuk konsumsi pribadi, tapi juga konsumsi industri pariwisata.
Untuk tahap kedua, Roni mengklaim pihaknya akan mengedepankan penyiapan pembangkit yang ramah lingkungan, ketimbang pembangkit sebelumnya yang berbahan fosil.
“Bahan bakar natural gas dan hidrogen memiliki lebih banyak keuntungan dan ramah lingkungan dibandingkan pembangkit listrik berbahan fosil. Ini juga salah satu rencana sebagai pendukung program pemerintah dalam penyediaan listrik,” ungkapnya.
Baca Juga: Fakta! Masih Ada Masyarakat Bali Belum Punya Listrik Sendiri. Contohnya Ada di Buleleng
Rencana pengembangan itu praktis langsung mendapat tanggapan dari masyarakat. Salah satunya adalah Muhammad Sadli.
“Tolong beri penjelasan kepada kami, seperti apa nanti bentuk limbah dari gas dan hidrogen yang digunakan untuk pembangkit ini. Jangans ampai masyarakat nanti dirugikan,” katanya.
Hal serupa diungkapkan warga lainnya, M. Sukran. Menurutnya, masyarakat Celukan Bawang sangat tergantung dengan hasil laut.
“Bagaimana nanti dampak pembangunan ini terhadap lingkungan pesisir kami. Jangan sampai terumbu karang jadi makin rusak,” ujarnya.
Hal itu juga dikuatkan dengan pernyataan Herman Hidayat yang juga Anggota LPM Desa Celukan Bawang.
“Pastikan dulu seperti apa residu dari bahan bakar natural gas dan hidrogen ini. Karena masyarakat ini awam dengan hal seperti itu,” ungkapnya.
Warga lainnya, yakni Fathurrohman bahkan menyatakan dirinya tidak bisa memberikan persetujuan pembangunan pembangkit listrik baru.
“Beri penjelasan yang pasti soal dampak yang dirasakan masyarakat. Harus ada pernyataan tertulis juga terkait tanggung jawab perusahaan. Jangan warga hanya jadi korban,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, pihak PLTU Celukan Bawang, Roni Agus Hartono mengatakan limbah yang dihasilkan pembangkit gas alam dan hidrogen, jauh berbeda dengan batu bara.
“Limbahnya tidak seperti batu bara, namun tetap akan diantisipasi secara maksimal. Terkait limbah sudah bisa dipastikan akan memenuhi standar lingkungan hidup,” ujarnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya