SINGARAJA, radarbuleleng.id- Pembangunan jalan pintas (shortcut) Singaraja-Mengwitani titik 7D dan 7E yang berlokasi di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng akan rampung pada bulan Desember 2024. Kini progres pembangunannya sudah 75 persen.
Kepala Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional (Kasatker PJN) Wilayah III Provinsi Bali, Noor Fachrie mengatakan bahwa kesepakatan selesainya pembangunan shortcut di dua titik tersebut pada Desember, karena adanya perubahan konstruksi.
Sebelumnya, diproyeksikan pembangunan di shortcut itu menggunakan konstruksi geofoam, namun karena berbagai pertimbangan utamanya dari Kementerian PUPR, maka rencana tersebut urung direalisasikan.
Apalagi penggunaan konstruksi itu, kata Noor Fachrie, memerlukan waktu yang lebih lama serta anggaran yang lebih besar pula.
Serta kekhawatiran akan jaminan ketahanan jembatan dengan konstruksi itu. Katanya, belum ada bukti bahwa geofoam bisa bertahan sampai 100 tahun, seperti jaminan ketahanan jembatan pada umumnya.
Sehingga, pihaknya pun meningkatkan elevasi tiang pancang jembatan yang sudah berdiri, sebagai ganti batalnya penggunaan konstruksi itu.
Hal ini juga yang kemudian membuat proyek shortcut titik 7D dan 7E, yang semulanya ditargetkan rampung pada bulan Juli 2024, akhirnya harus mundur ke Desember 2024.
Ia juga menegaskan bahwa setiap kendala yang akan muncul, sudah dilakukan mitigasi sehingga ada solusinya.
”Proyek shortcut titik 7D dan 7E sudah 75 persen. Rampung akhir tahun ini, sudah final. Kalau terlambat pasti kena denda,” ujarnya pada Kamis lalu (12/9) di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, usai rapat terkait penanganan banjir di Jalan Raya Singaraja-Denpasar.
Dari pantauan Radar Bali di proyek shortcut, titik 7E sudah rampung dan sudah terhubung.
Bahkan kendaraan dari Singaraja menuju Denpasar maupun sebaliknya, sudah bisa melewati jalan pintas itu. Meski titik tersebut masih tampak proyek drainase.
Sementara di titik 7D, Noor Fachrie mengatakan bahwa pembangunannya masih tetap berjalan, sembari mengejar waktu.
Untuk diketahui shortcut titik ini dibangun di atas jurang, sehingga memerlukan tiang-tiang pancang, sebagai penyangga jembatan.
”Di titik 7D, sedang proses pemasangan balok girder, kemudian pemasangan lantai jembatan, dan pengaspalan,” lanjutnya mengungkapkan.
Untuk diketahui, proyek shortcut Singaraja-Mengwitani titik 7D dan 7E proyeknya mulai dikerjakan sejak groundbreaking pada Selasa, 29 Agustus 2023 oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Sesuai rencana, dua titik ini akan mengurangi panjang jalan, yang semula 603 meter menjadi 555 meter. Titik 7D panjang jalannya 340 meter, titik 7E panjangnya 215 meter.
Dari total jalan tersebut, sepanjang 155 meter berupa jembatan. Shortcut ini juga memangkas 8 tikungan menjadi 4 tikungan saja, yang mempengaruhi turunnya kelandaian jalan.
Dana proyek ini menggunakan APBN Kementerian PUPR melalui SBSN Tahun Anggaran 2023–2024 sebesar Rp 82,090 miliar. ***
Editor : Donny Tabelak