Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Gending Lelonggoran Diharapkan Wajib Ditampilkan Setiap Ritual Keagamaan di Buleleng

Francelino Junior • Kamis, 26 September 2024 | 23:29 WIB

 

Kadek Angga Wahyu Pradana ajak generasi muda mencintai dan melestarikan kesenian khas Buleleng, yaitu Gending Lelonggoran.
Kadek Angga Wahyu Pradana ajak generasi muda mencintai dan melestarikan kesenian khas Buleleng, yaitu Gending Lelonggoran.

SINGARAJA, radarbuleleng.id - Gending lelonggoran yang merupakan gending khas dari Bali utara, diharapkan dapat selalu ditampilkan dalam setiap ritual keagamaan di Buleleng. Ini menjadi salah satu upaya mencintai seni dan budaya di daerah sendiri.

Hal ini diungkapkan oleh  Kadek Angga Wahyu Pradana, pemuda pelopor seni budaya dalam Bincang Komunikasi (B-Kom) Dinas Kominfosanti Buleleng pada Selasa (24/9).

Katanya, gending lelonggoran atau gending lelonggaran harus dan wajib ditampilkan saat ritual keagamaan khususnya Dewa Yadnya.

Ia mengatakan bahwa generasi muda enggan mengikuti seni tersebut. Hal itu membuat seni khas asal Buleleng itu lambat laun hilang termakan zaman.

Padahal gending ini sudah diwariskan sejak dulu yang dikemas dengan gaya yang berbeda, tanpa mengurangi esensi serta strukturnya.

Sementara jenis gending yang ditampilkan belakangan ini, malah jarang menyentuh atau minim menggemari gending lelonggoran.

”Karena generasi muda enggan tertarik, perlu dilakukan revitalisasi dengan memaksimalkan suatu bagian gending sesuai dengan perkembangan anak muda jaman sekarang,” katanya.

Angga Wahyu berani berbicara demikian, lantaran ia terpilih sebagai pemuda pelopor di bidang seni budaya.

Pemuda yang juga Ketua Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti mengatakan bahwa pihaknya berhasil mendapatkan juara 1 tingkat nasional, mewakili Bali.

Pemuda Pelopor merupakan program yang digaungkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.

Beragam persiapan dilakukannya, mulai dari seleksi tingkat kabupaten hingga provinsi.

Pemuda asal Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng ini mendapatkan juara 1 di tingkat kabupaten. Kemudian mengikuti verifikasi lapangan oleh tim juri dari Provinsi Bali.

”Astungkara, pada bulan Juli kami terpilih menjadi juara 1 tingkat nasional mewakili Provinsi Bali, sebagai pemuda pelopor di bidang seni dan budaya,” ujarnya dengan bangga.

Terkait hal itu juga, Angga Wahyu mengajak agar masyarakat Buleleng utamanya generasi muda, agar mencintai gending lelonggoran, yang merupakan ciri khas Bali utara. Ia mengaku memiliki strategi, salah satunya memanfaatkan media sosial. ***

Editor : Donny Tabelak
#Dinas Kominfosanti Buleleng #ritual keagamaan #seni budaya