Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cerita Luh Suarnadi, Pekerja Migran asal Buleleng yang Pulang Gegara Perang. Ingin Habiskan Waktu Bersama Keluarga, Siap Kembali Bila Konflik Usai

Francelino Junior • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 00:48 WIB

 

KEMBALI PULANG: Ni Luh Suarnadi (paling kiri) saat ditemui di rumahnya, di Desa Gitgit, Buleleng.
KEMBALI PULANG: Ni Luh Suarnadi (paling kiri) saat ditemui di rumahnya, di Desa Gitgit, Buleleng.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Konflik Timur Tengah yang melanda Lebanon, memaksa pekerja migran asal Buleleng, Ni Luh Suarnadi, 44, memilih pulang kampung.

Dia menuntaskan pekerjaannya lebih awal, lantaran konflik terus berkecamuk. Padahal masa kerjanya masih tersisa setahun.

Tapi demi keamanan, dia memilih pulang kampung. Kini dia telah berkumpul bersama keluarganya.

RadarBuleleng.id sempat bertemu dengan Suarnadi di rumahnya pada Kamis (10/10/2024) siang. Dia pun menceritakan suasana mencekam yang terjadi di Lebanon.

Suarnadi mengungkapkan, selama ini dia bekerja sebagai terapis spa di wilayah Berassan, Sultan Ibrahim, Kota Beirut, Lebanon.

Sejak konflik pecah, dentuman bom sudah menjadi makanan sehari-hari. Dia sempat panik dan gemetar, karena harus mencari tempat persembunyian.

Maklum saja, ini pertama kalinya dia berada di daerah konflik. Apalagi dia hanya warga sipil, ditambah lagi dia tengah berada di perantauan, jauh dari keluarga.

”Situasinya sangat mencekam, karena dari tempat saya dengan terjadinya bom itu hanya 10 menit. Sangat terasa getaran dan bunyinya,” ujarnya.

Suarnadi bercerita, bom jatuh hampir tiap hari. “Setiap hari saya lihat tentara dan kendaraan militer di jalan,” ceritanya.

Kondisi itu membuat ia merasa tidak nyaman. Dia akhirnya mengungsi ke sebuah mess yang juga dihuni pekerja migran asal Bali.

Meski lokasinya lebih jauh, dia tetap merasa was-was. Karena suara dentuman dan getaran bom masih terasa.

Mengingat kondisi yang mencekam dan nyawanya terancam, ia akhirnya mendatangi KBRI Beirut pada Selasa (1/10/2024). 

Ia mendaftar program pemulangan ke tanah air. Saat itu Suardani tidak sendiri, ada juga sejumlah WNI yang melaporkan diri agar bisa dievakuasi pulang ke Indonesia.

KBRI Beirut lalu mengungsikan Suarnadi dan teman-temannya ke sebuah tempat yang jauh dari kota. Hal ini agar mereka bisa sedikit bernafas lega dari hingar bingar konflik di Lebanon.

Suarnadi bersama 19 orang WNI lainnya harus menempuh perjalanan darat selama tiga hari mulai tanggal 2 Oktober. Mereka menumpangi bus melintasi Suriah, Yordania, dan Qatar. Lalu pada Minggu (6/10) rombongan WNI ini terbang ke Indonesia melalui Bandara Internasional Doha, Qatar.

Ia diketahui tiba dan bermalam di Jakarta pada Senin (7/10), lalu Suarnadi bersama dua orang warga Bali lainnya tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali, pada Selasa (8/10).

Suarnadi mengaku dia sudah tujuh tahun bekerja di Lebanon. Tepatnya sejak tahun 2017 lalu. 

Lebanon merupakan negara kedua tempat ia merantau. Sebelumnya ia telah merantau di Turki pada 2014. Agennya kemudian meminta ia pindah ke Lebanon.

Setelah kembali ke Indonesia, Suarnadi belum memutuskan untuk kembali bekerja ke luar negeri. Ia mengaku kontraknya di Lebanon sebenarnya masih tersisa satu tahun. 

Suarnadi menyebut perusahaan sudah mengerti dengan kondisi yang terjadi di negara tersebut, sehingga para pekerja memilih angkat kaki.

Kini ia mengaku menikmati dan menghabiskan waktunya untuk beristirahat dengan suaminya, Gede Artana, 51, dan dua orang anaknya. 

Sebab selama bekerja di luar negeri, ia hanya memiliki waktu selama sebulan untuk bercengkrama bersama keluarganya di Desa Gitgit.

”Sekarang ini masih mau istirahat dulu. Kontraknya masih ada, namun karena masih konflik belum memungkinkan ke sana,” tutupnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #lebanon #spa #pekerja migran #buleleng