Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Lapor Pak! Puluhan Penyu Selundupan di Buleleng Disebut Siap Bertelur

Francelino Junior • Minggu, 2 Februari 2025 | 14:45 WIB
KEMBALI KE HABITAT: Penyu-penyu yang sempat ditemukan di sebuah gudang kosong di Desa Pemuteran. Penyu itu dilepasliarkan di Pantai Pasir Putih Banyuwedang pada Jumat (31/1/2025).
KEMBALI KE HABITAT: Penyu-penyu yang sempat ditemukan di sebuah gudang kosong di Desa Pemuteran. Penyu itu dilepasliarkan di Pantai Pasir Putih Banyuwedang pada Jumat (31/1/2025).

SINGARAJA, radarbuleleng.jawapos.com- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali menyebut puluhan penyu hijau (Chelonia Mydas) selundupan di Buleleng siap bertelur.

Hal ini juga yang mendorong pelepasliaran penyu-penyu yang diduga hendak dijadikan bahan konsumsi.

Pelepasliaran 23 penyu ini dilakukan pada Jumat (31/1) pagi di Pantai Pasir Putih (White Sandy Beach), Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak.

Diketahui 22 penyu merupakan sitaan dari temuan di Desa Pemuteran, sedangkan 1 lagi dari Kabupaten Jembrana.

Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko mengatakan, dari pantauan selama di seapen milik Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) bahwa puluhan penyu hijau berjenis kelamin betina itu, dalam kondisi siap bertelur. Bahkan hewan-hewan itu masih dalam kategori wild (liar).

”Kondisinya sudah siap bertelur. Sebenarnya sesuai SOP penyitaan satwa liar, karena penyu-penyu ini masih wild, pada kesempatan pertama langsung dirilis (dilepas liarkan).

Meski sudah lewat beberapa hari, namun semua tentu siap rilis, dan ukurannya besar-besar,” ujarnya.

Pihaknya pun mengutuk oknum-oknum masyarakat, yang menyediakan hingga yang mengkonsumsi penyu.

Sebab menurutnya, orang-orang tersebut tentu tidak beretika. Karena hanya ingin memakan hidangan ekstrem, sampai mengorbankan penyu yang merupakan satwa dilindungi.

Menurut Ratna Hendratmoko, sudah seharusnya masyarakat menghargai dan menjaga keberadaan satwa, baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi. Sebab ini berkaitan dengan ekosistem alam.

Berkurang maupun punahnya penyu, tentu akan membuat rantai makanan di laut menjadi terganggu, yang juga merugikan manusia. Karena saat bermigrasi, penyu juga membawa kesuburan di lautan. 

”Apa tidak ada makanan lain? Kalau mau ekstrem, lain daripada yang lain, apa tega? Apa-an makan penyu, hebatnya apa? Itu satwa dilindungi dan simbol keseimbangan, umur panjang, juga kesetiaan,” kritiknya.

Kepala Balai KSDA Bali itu menambahkan, penyu di Bali merupakan bagian dari 4 pilar. Yakni konservasi, wisata, edukasi, dan adat.

Sehingga penting, apabila masyarakat ikut melestarikan penyu dengan tidak mengkonsumsi maupun memperdagangkannya. Karena masyarakat harus sadar bahwa penyu adalah salah satu satwa yang dilindungi.***

Editor : Donny Tabelak
#penyu hijau #BKSDA Bali #penyelundupan penyu