Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kisah Redi Mustika, Guru SD yang Ditemukan Meninggal: Mulai Murung Beberapa Bulan Belakangan, Sempat Tinggalkan Pesan di WhatsApp

Eka Prasetya • Kamis, 1 Mei 2025 | 00:05 WIB

 

EVAKUASI: Aparat kepolisian dari Polsek Kota Singaraja mengevakuasi jenazah guru SD yang ditemukan tenggelam.
EVAKUASI: Aparat kepolisian dari Polsek Kota Singaraja mengevakuasi jenazah guru SD yang ditemukan tenggelam.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ketut Redi Mustika, 41, seorang guru di SD Negeri 1 Kubutambahan, Buleleng, ditemukan tewas mengambang di Pantai Banyuning, pada Selasa (30/4/2025).

Mendiang diduga terpeleset saat hendak melukat di Pura Segara Banyuning. Jenazahnya ditemukan dalam kondisi mengambang pada Selasa siang.

Meninggalnya mendiang, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga. Maupun rekan-rekan mendiang yang bertugas di SDN 1 Kubutambahan.

Mendiang Mustika merupakan salah seorang guru di Kabupaten Buleleng, Bali. Dia memberikan pelajaran agama Hindu kepada anak-anak di sekolah dasar tersebut.

Plt. Kepala SDN 1 Kubutambahan, Putu Yuli Krisniati mengungkapkan, mendiang merupakan sosok yang berdedikasi. Mendiang telah bertugas sebagai guru di SDN 1 Kubutambahan sejak 2015 silam.

Selama bertugas di sekolah tersebut, dia dikenal sebagai sosok yang energik dan ceria. “Jadi kalau ada dia itu, suasana jadi ramai. Apalagi waktu ngobrol-ngobrol jam siang itu,” ungkap Krisniati.

Baca Juga: Guru SD Ditemukan Tewas Mengambang di Pantai Banyuning Buleleng

Namun belakangan, sejak awal 2025, mendiang mulai menunjukkan perubahan perilaku. Dia mulai membatasi komunikasi. Bahkan kurang motivasi mengajar. Ditambah lagi badannya semakin kurus.

Krisniati mengaku sempat melakukan pendekatan kepada mendiang. Dia mengira mendiang memiliki beban masalah. Namun mendiang enggan mengungkapkan masalahnya.

“Kami juga berasumsi dia sakit. Karena mulai kurus. Memang pernah bilang ada asam lambung,” ujarnya.

Nah pada saat mendiang ditemukan meninggal pada Selasa, dia sempat melakukan video call rekan-rekannya di sekolah. Saat itu dia mengajukan izin tidak datang ke sekolah. Karena mencari dokter di seputaran Banyuning.

“Selang 1-2 jam itu, kami dapat kabar kalau guru kami ini meninggal. Makanya kami kaget sekali,” cerita Krisniati.

Konon, mendiang juga sempat meninggalkan pesan kepada keluarganya di dalam aplikasi WhatsApp. Dalam pesan itu, mendiang meminta agar dikremasi di Petunon Setra Desa Adat Buleleng.

Terpisah, Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Darma Diatmika mengungkapkan, polisi masih melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti meninggalnya mendiang Ketut Redi Mustika.

Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi-saksi, polisi menduga jika mendiang meninggal terseret arus saat hendak melukat.

“Dari pemeriksaan saksi-saksi, ada yang menyatakan bahwa mendiang ini pamit mau melukat,” ujar AKP Diatmika.

Terkait wasiat yang tersimpan dalam aplikasi WhatsApp di HP mendiang, Diatmika menyatakan hal itu akan menjadi bahan penyelidikan lebih lanjut. “Kami cek dulu ya informasinya,” demikian Diatmika. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#hindu #agama #guru #pantai #Banyuning #Pura Segara #video call #buleleng