Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Terkait Mati Listrik, Dewan Bali Dorong PLTU Celukan Bawang Mandiri Energi

Francelino Junior • Rabu, 7 Mei 2025 | 19:29 WIB

 

Kunjungan Komisi III DPRD Bali ke PLTU Celukan Bawang pasca blackout. Pembangkit listrik itu didorong untuk mendukung mandiri energi.
Kunjungan Komisi III DPRD Bali ke PLTU Celukan Bawang pasca blackout. Pembangkit listrik itu didorong untuk mendukung mandiri energi.

Radarbuleleng.jawapos.com- Pasca Bali mengalami blackout, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang didatangi Komisi III DPRD Bali.

Selain untuk memastikan kondisi dan penyebab gelapnya Pulau Dewata pada Jumat (2/5), sekaligus mendorong agar pembangkit listrik itu turut dalam kemandirian energi Bali.

Kunjungan Komisi III DPRD Bali dilakukan pada Selasa (6/5) siang. Tujuan mereka membahas beberapa hal yang berkaitan dengan blackout Bali, yang menghebohkan publik.

Gelap gulitanya pun berlangsung bervariasi, ada yang cepat, namun ada juga yang lama.

Menurut para dewan Bali, peristiwa itu justru mengkhawatirkan, sebab Bali dikenal sebagai destinasi pariwisata dunia, serta banyak objek vital seperti rumah sakit hingga bandara. 

”PLTU Celukan Bawang salah satu penunjang energi Bali sekitar 30 persen. Tentu disini jadi tolak ukur. Harapannya agar kedepan jangan sampai terjadi lagi,” ujar Ketua Komisi III DPRD Bali, Nyoman Suyasa.

Pihaknya pun meminta agar kedepan pembangkit listrik yang ada di Bali, salah satunya di Celukan Bawang, agar punya kemandirian energi.

Ini seperti yang digaungkan Gubernur Bali, Wayan Koster agar Bali mandiri energi. Patokannya adalah Pulau Dewata sebagai destinasi wisata dunia.

Menurut Suyasa, pembangkit listrik ramah lingkungan juga berasal dari penggunaan energi terbarukan.

Dijelaskan secara ringan, penggunaan energi terbarukan dapat memberikan kapasitas besar sampai 450 MW.

Apabila ada dua unit, maka ada 900 MW yang bisa dihasilkan. Tentu ini juga memberi rasa aman untuk listrik Bali.

”Di PLTU Celukan Bawang pakai bahan gas, jadi kan lebih ramah lingkungan. Sesuai dengan yang disampaikan pak gubernur Bali, mengenai energi terbarukan, untuk kemandirian pangan,” tambahnya.

Sementara itu, Manajer Teknis PLTU Celukan Bawang, Helmy Rosadi mengatakan, Komisi III DPRD Bali datang untuk mengklarifikasi mengenai langkah-langkah penanganan di pembangkit listrik, apabila terjadi kejadian blackout maupun sejenisnya.

Pihaknya menyampaikan di sana ada tiga unit pembangkit, kalau saat itu dua unit sedang dalam kondisi overhaul atau perbaikan. Otomatis yang beroperasi hanya satu saja. Pemeliharaan itu memang sudah terjadwal.

”Mengenai dorongan dewan, kami memang berencana pengembangan kedua, sudah diajukan ke PLN dan sudah ada semacam feasibility study atau studi kelayakan. Keputusan ada di pemerintah, kami juga menunggu RUPTL 2025-2034,” kata Helmy.

Menurutnya, pengembangan tahap kedua di PLTU Celukan Bawang akan membuat penambahan daya listrik yang dihasilkan, yakni menjadi 2x400 MW, artinya totalnya 900 MW.

Tentu dengan jumlah energi yang besar, maka akan ada cadangan energi juga untuk Bali.

Sehingga apabila ada jadwal pemeliharaan unit pembangkit listrik, tidak akan terjadi pembebanan. 

”Saat ini beban puncak di Bali 1100 MW, kami suplai 380 MW, sekitar 32 persen dari beban puncaknya,” tandas Helmy.***

Editor : Donny Tabelak
#pltu celukan bawang #blackout #mati listrik #pembangkit listrik #dprd bali