Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Cerita dari TMMD ke-124 di Buleleng: Empat Dekade Menanti, Rumah Impian Kandia Akhirnya Berdiri

Eka Prasetya • Selasa, 3 Juni 2025 | 23:25 WIB
GOTONG ROYONG: Personel TNI bergotong royong membantu Gede Kandia membangun rumah impian.
GOTONG ROYONG: Personel TNI bergotong royong membantu Gede Kandia membangun rumah impian.

Di sebuah desa sejuk di ketinggian 525 meter di Bali Utara, delapan pria berseragam loreng mengelilingi seorang warga sipil. Tapi ini bukan operasi militer, melainkan gotong royong membangun infrastruktur. 

GEDE Kandia, 54, tampak cekatan mengaduk campuran semen, pasir, dan air. Di sisinya, sejumlah prajurit TNI dari Kodim 1609/Buleleng turut bekerja. Bukan proyek besar, melainkan pembangunan rumah impian seorang buruh serabutan yang telah puluhan tahun hidup berpindah-pindah.

“Airnya ditambah Pak Kandia. Campur pasir lagi sedikit,” seru Serka Putu Nuriasa, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Umeanyar, yang kini didapuk sebagai kepala tukang.

Mereka bahu-membahu membangun rumah berukuran 5x6 meter. Rumah itu bukan sekadar bangunan, tetapi harapan yang disimpan Kandia sejak tahun 1982 silam.

Empat dekade hidup sebagai buruh membuat Kandia tak pernah punya tempat tinggal tetap. Ia bersama istri dan tiga orang anaknya kerap berpindah tempat tinggal. Dari tanah orang ke tanah adat. Hingga akhirnya mereka menumpang di lahan milik keluarga di Dusun Dangin Pura, Desa Depeha, Kabupaten Buleleng.

Harapan memiliki rumah semakin nyata pada 2019 lalu. Dia mendapat kesempatan membeli lahan seluas 2 are dengan harga total Rp 11 juta. Lokasinya di Dusun Seganti, sekitar 700 meter arah barat dari tempat tinggalnya saat ini.

Di atas lahan itu dia mendirikan sebuah gubuk sederhana berdinding seng. Di sana Kandia juga membuat kandang untuk ternak babi dan ternak sapi.

Istrinya, Nyoman Budi Asih, 52, saban hari akan datang ke gubuk itu untuk mengurus ternak. Sekadar menyabit rumput untuk pakan sapi atau mencari umbi talas untuk pakan babi.

“Ada babi 3 ekor, itu punya saya. Kalau sapi yang dua ekor itu titipan. Kalau nanti beranak, anaknya jadi hak saya,” cerita Kandia seraya menunjuk kandang sapi yang terletak di sisi utara lahan miliknya.

Mimpi memiliki rumah terus dijalani Kandia dengan sabar. Tahun demi tahun, ia mengajukan permohonan bantuan bedah rumah ke pemerintah. Sambil menunggu, ia mengumpulkan bahan bangunan secara mandiri. Sedikit demi sedikit.

Tatkala menemukan balok kayu, ia akan mengumpulkannya sepotong demi sepotong. Material yang didapat disimpan di gubuk. Kandia juga mengumpulkan batu dari tebing di sekitar tempat tinggalnya.

“Saya sewa tukang betel (pemecah batu), bayar Rp 1,5 juta. Waktu itu dari hasil jual babi,” kata pria kelahiran April 1971 silam itu.

Akhirnya, TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 yang dilaksanakan Desa Depeha menjadi titik terang. Kandia mendapat bantuan sebesar Rp 20 juta dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng. Sesuai aturan pemerintah, dana Rp 17,5 juta digunakan untuk membeli bahan bangunan, sedangkan Rp 2,5 juta sisanya untuk ongkos tukang.

Kandia sadar betul jika bantuan itu tidak cukup untuk membangun rumah. Dia menggunakan “tabungan” bahan bangunan yang sudah tersimpan bertahun-tahun. Batu digunakan sebagai pondasi, sedangkan balok kayu digunakan untuk rangka atap.

Untuk membangun rumah dia mendapat bantuan dari personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Ada tiga orang yang turun tangan menjadi tukang, dan lima orang lain sebagai pengayah tukang. Mereka bergotong royong selama tiga pekan untuk membangun rumah berukuran 5x6 meter.

Selama proses pembangunan, Kandia dan para personel TNI mengoptimalkan bahan yang ada. Seng yang idealnya menjadi atap rumah, dimanfaatkan sebagai material untuk menahan cor-coran semen.

“Biar lebih irit. Kalau pakai papan, biaya lagi. Nanti tinggal dibersihkan saja,” ucap Kandia.

“Sekalian biar ada motifnya. Biar ada kesan gaya Eropa,” seloroh Serka Nuriasa sambil tertawa, menunjuk tiang yang bergelombang mengikuti bentuk seng.

Rumah yang dibangun Kandia akhirnya tuntas pada Kamis (30/5). Meski belum dilengkapi kamar mandi dan listrik, baginya rumah itu sudah lebih dari cukup. “Yang penting bisa untuk tidur dulu. Nanti kamar mandi belakangan kalau ada rezeki, sekalian diplester,” kata Kandia. Ia juga berencana mengajukan bantuan sambungan listrik gratis kepada pemerintah desa.

Kandia bukan satu-satunya penerima program bedah rumah dalam TMMD ke-124. Ada pula Ketut Buktiasa dan Komang Sentana, warga Desa Depeha yang juga mendapat bantuan serupa.

Namun, TMMD kali ini buka hanya hanya soal bedah rumah. TNI bersama masyarakat Desa Depeha juga membangun jalan penghubung antara Desa Depeha dengan Desa Bukti. Jalan yang terletak di Dusun Seganti itu memiliki panjang 1.255 meter dengan lebar 6 meter.

Jalan juga dilengkapi dengan drainase sepanjang 501 meter dan senderan sepanjang 300 meter, guna mencegah longsor. Maklum jalan tersebut berada di ketinggian tebing.

Ruas tersebut membuka asa bagi masyarakat untuk menghidupkan ekonomi desa. Terutama para petani mangga harum manis. Para perantau bahkan rela pulang kampung untuk membantu mempercepat pengerjaan jalan.

Wayan Budiana, 56, misalnya, pulang dari perantauan di Bangli hanya untuk ikut bergotong royong. “Jalan ini bermanfaat sekali. Kalau mau bawa mangga ke Karangasem, tinggal lewat sini. Tidak perlu memutar lagi ke barat. Mudah-mudahan nanti pemerintah terketuk hatinya, dilanjutkan sampai diaspal,” harapnya.

Kepala Desa Depeha, I Gede Srinyarnya mengungkapkan, warga sangat mendukung program TMMD. Mereka yang bekerja sebagai buruh harian rela menyempatkan diri membantu proses gotong royong. Meski itu berarti mereka harus melepas pendapatan harian.

“Karena apa yang kami kami inginkan selama bertahun-tahun, sekarang dibantu TNI. Kalau sebatas tenaga atau sekadar makan, warga kami dengan sukarela membantu,” katanya.

Selain membangun jalan, dalam TMMD ke-124 TNI juga membangun reservoir yang akan membantu 60 kepala keluarga mengakses air bersih. Ada pula kegiatan penataan tempat ibadah, penanaman mangga, penyuluhan pengolahan hasil panen untuk para petani mangga, hingga wawasan kebangsaan bagi siswa.

Komandan Kodim 1609/Buleleng, Letkol Kav Angga Nurdyana, menyebut kendala utama selama TMMD hanyalah cuaca hujan. Namun berkat semangat gotong royong, pembangunan tetap dikebut.  “Gantinya ya personel kami lembur sampai malam. Ketika kami lembur, warga justru semakin banyak yang membantu. Mudah-mudahan semuanya bisa selesai sesuai target,” harapnya.

Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat (Aster KSAD), Mayjen TNI Joko Hadi Susilo juga turut mengapresiasi kemanunggalan di Desa Depeha. “Kebersamaan dan kekompakan dari seluruh personel dan warga, sangat baik. Sehingga sasaran fisik bisa terselesaikan sesuai jadwal,” ujar Joko saat berkunjung ke Depeha pada Jumat (16/5).

Kini, pelaksanaan TMMD tinggal menghitung jam. Seluruh pekerjaan harus tuntas pada Rabu (4/6). Pekerjaan yang tersisa hanya penyelesaian jalan. Di sisa waktu yang ada, TNI dan warga makin kompak bekerja sama. Di balik deretan beton dan bata, ada harapan yang hidup kembali. Di Buleleng, semangat gotong royong TNI dan rakyat membuktikan bahwa membangun desa bukan sekadar infrastruktur. Tapi tentang menghidupkan kembali mimpi yang lama tertunda. (*/eka prasetya)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Kodim 1609/Buleleng #bali #Depeha #infrastruktur #gotong royong #rumah #tmmd #tni ad #desa #tni #militer #buleleng