SINGARAJA - Tumpukan botol bir bekas yang kerap dianggap sebagai sampah, justru bisa menjadi ladang rezeki yang menjanjikan.
Gede Adi Juliawan, pemuda asal Padangbulia, Buleleng, membuktikan bahwa peluang bisa datang dari mana saja. Termasuk dari sisa-sisa pesta.
Berawal dari tumpukan botol kosong di toko kelontong milik orang tuanya, Gede memulai bisnis yang berkembang menjadi usaha pengepulan botol bir dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Ide itu muncul sekitar Desember 2023 silam. Saat ia melihat banyak botol bir berbagai merek yang bertumpuk di toko orang tuanya. “Waktu itu saya berpikir, kenapa nggak dijual aja?” ceritanya.
Dengan modal motor dan semangat pantang gengsi, Gede mulai mengumpulkan botol. Dari toko orang tua, dia bergeser ke rumah tetangga, warung di sekitar desa, hingga mendatangi tempat orang biasa nongkrong.
“Ya seperti pemulung keliling. Tapi lama-lama semakin besar, sampai jadi pengepul,” ujar pria kelahiran Juli 1994 itu.
Kini, usahanya tumbuh besar. Dia tidak lagi bekerja seorang diri. Tapi melibatkan keluarga besar. Mulai dari orang tua, adik, keponakan, hingga sepupu.
Ia juga menggandeng pengepul dari luar desa bahkan dari Pulau Jawa. Termasuk bekerja sama dengan petugas kebersihan desa yang membantu mengumpulkan botol dari wilayah masing-masing.
Setiap botol yang terkumpul tidak langsung dijual. Gede dan timnya terlebih dahulu membersihkannya, memilah berdasarkan merek, lalu mengemas botol-botol tersebut menggunakan kardus bekas aslinya.
Proses sederhana ini sering dianggap remeh. Tapi sebenarnya proses itu sangat penting. Sehingga pabrik bersedia menerima lagi botol-botol itu. Botol setiap merk bir kemudian dibawa ke gudang masing-masing.
Setiap botol biri ia beli seharga Rp1.000. Selanjutnya botol dijual ke gudang seharga Rp1.200. Keuntungan bersih sangat tipis, hanya Rp 200 per botol.
Tapi berkat kerja keras, konsistensi, dan pantang menyerah, omzetnya bisa menembus dua digit. Apalagi saat musim ramai konsumsi bir, seperti saat hari raya atau akhir tahun.
Usahanya tak selalu berjalan mulus. Tak semua botol bisa diterima pabrik. Jika ada yang lecet atau rusak, terpaksa dijual murah sebagai botol kecap atau beling kaca biasa.
Kerap kali dia mengalami kekurangan kardus bekas. Sehingga harus mendatangkan dus dari Pulau Jawa. Belum lagi masalah keterbatasan ruang penyimpanan ketika stok menumpuk.
Meski begitu, Gede tak pernah menyerah. “Kita tetap jalan. Botol yang tidak laku tetap dijual dengan harga rendah, yang penting tidak ada yang terbuang,” katanya.
Ke depan, ia berencana membangun gudang sendiri agar usaha semakin efisien. Ia juga berharap lebih banyak anak muda mau mengambil peluang serupa.
“Pesan saya buat yang mau mulai usaha, jangan gengsi. Masalah berhasil atau tidak pasti ada waktunya. Kalau nggak mau mulai, kesempatan nggak akan pernah datang,” tutupnya. (Penulis: Kadek Edi Sastrawan)
Editor : Eka Prasetya