Radarbuleleng.jawapos.com- Fenomena ular piton yang muncul di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng yang terjadi belakangan ini, disebut terjadi karena tingginya curah hujan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali. Meski begitu, munculnya ular-ular itu disebut tak lazim dan meresahkan.
Kehadiran ular piton utamanya di kawasan Danau Buyan, Desa Pancasari dekat masyarakat bermukim membuat resah. Apalagi ”berwisatanya” ular piton di sana, sudah terjadi sejak dua minggu belakangan.
Tentu saja ini mengkhawatirkan, sebab banyak kejadian yang melibatkan ular piton dan manusia, berujung kematian.
Awalnya, ular-ular ini mulai ditemukan masyarakat saat gotong royong di pinggir Danau Buyan.
Dari hanya hitungan jari, kemudian totalnya mencapai 28 ekor. Dari total itu, 12 ekor ternyata masih hidup, sedangkan sisanya sudah mati.
Hewan-hewan ini panjangnya mencapai dua meter dengan diameter 10-13 centimeter. Diperkirakan berasal dari atas bukit, yang jaraknya 1,5 kilometer dari danau.
”Dari dulu di sini belum pernah ada ular piton sebesar itu. Bisa jadi ada yang membuang atau melepas, entah dari hutan atau hasil penangkapan. Warga dekat danau jadi resah akibat fenomena ini,” ujar Perbekel Desa Pancasari, I Wayan Komiarsa pada Senin (7/7).
Berdasarkan laporan masyarakat, keberadaan ular-ular itu masih di sekitar danau atau hutan saja, belum sampai masuk ke areal rumah warga.
Meski begitu, keresahan tetap menghantui masyarakat sekitar. Bahkan ular-ular itu terlihat secara langsung, baik masih hidup maupun sudah mati.
Apalagi ada ular yang sampai tersangkut di jaring ikan di danau. Warga juga sampai takut untuk mancing di malam hari.
Sementara itu, Balai KSDA Bali melalui siaran persnya yang diterima pada Senin (7/7) siang menjelaskan, Danau Buyan dan Tamblingan merupakan kawasan konservasi yang unik.
Di dalamnya pun terkandung beragam hayati tinggi baik flora dan fauna, yang salah satunya ular piton, yang ternyata banyak berada di wilayah Telaga Aya di antara kedua danau kembar itu.
Balai KSDA Bali pun tak menampik, kalau pihaknya melepasliarkan ular piton di areal Cagar Alam Batukau, yang merupakan kawasan perlindungan keanekaragaman hayati baik flora dan fauna. Tetapi wilayah itu jauh dari pemukiman warga.
Pelepasliaran juga disebut memperhatikan keselamatan warga, apalagi Danau Buyan dan Danau Tamblingan khususnya di wilayah Dasong, Desa Pancasari menjadi salah satu objek wisata berkemah.
Balai KSDA Bali menyebut sudah menurunkan tim ke Desa Pancasari pada Minggu (6/7), untuk melakukan pemeriksaan dan evakuasi ular piton, apabila masih ditemukan berkeliaran.
”Akhir-akhir ini terjadi hujan dengan intensitas tinggi di Danau Buyan dan Danau Tamblingan, hal ini salah satu pemicu ular-ular keluar habitatnya. Populasi ular piton meningkat, karena predator utamanya yakni elang dan biawak yang berkurang populasinya di alam,” ujar Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko.
Meski begitu, pihaknya tetap meminta maaf atas kejadian yang terjadi. Kedepan, lanjut Hendratmoko, Balai KSDA akan selalu berkoordinasi dengan warga, terkait upaya penanggulangan ular piton masuk ke wilayah Desa Pancasari.***
Editor : Donny Tabelak