Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Petani Buleleng Kembangkan Kopi Gayo, Genjot Produksi Lokal 

Eka Prasetya • Senin, 21 Juli 2025 | 00:56 WIB
KOPI: Bibit kopi gayo yang ditanam petani di Desa Tambakan, Kabupaten Buleleng, Bali.
KOPI: Bibit kopi gayo yang ditanam petani di Desa Tambakan, Kabupaten Buleleng, Bali.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Petani kopi di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali mulai melirik varietas unggul dari luar daerah. 

Kali ini, varietas yang mereka kembangkan adalah kopi gayo. Kopi ini merupakan tanaman kopi arabika asal Provinsi Aceh yang sudah tersohor.

Proses uji coba tanam sudah dilakukan pada akhir Juni lalu, dengan harapan bisa meningkatkan nilai ekonomi petani lokal.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Gede Melandrat mengatakan, varietas kopi gayo dikembangkan dengan pola tumpang sari.

Kopi menjadi tanaman sela pada perkebunan jeruk yang dikelola oleh Wayan Restawan, warga di Desa Tambakan. 

“Nilai jual kopi gayo cukup tinggi, berkisar Rp115.000 hingga Rp239.999 per kilogram. Kopi ini juga sudah diakui dunia karena rasa dan aroma khasnya,” jelas Melandrat.

Baca Juga: Traktir Seribu Kopi, Gubernur Koster Rogoh Kocek Pribadi. Kali Ini Boleh Pakai Gelas Plastik

Cita rasa kopi gayo dikenal kuat, beraroma harum, memiliki keasaman rendah, dan sentuhan rasa manis yang menjadi ciri khasnya. 

Meski begitu, Melandrat menekankan bahwa penanaman varietas luar seperti kopi gayo tidak serta-merta menyingkirkan eksistensi kopi lokal Buleleng.

“Setelah ditanam di Buleleng, rasa kopi gayo akan berubah karena dipengaruhi unsur tanah, cuaca, hingga tekstur lahan. Rasanya bisa berbeda dengan kopi gayo asli dari Aceh. Seperti durian montong yang ditanam di Buleleng, rasanya jadi lebih mirip durian lokal,” ungkapnya.

Melandrat menyatakan pemerintah mendukung inovasi petani dalam mengembangkan varietas baru. Selama tidak mengabaikan aspek keberlanjutan dan kelestarian varietas lokal. 

Apalagi, kopi merupakan tanaman ideal di lahan dataran tinggi dengan kontur miring karena juga membantu mencegah erosi dan longsor.

Dinas Pertanian Buleleng mencatat, kopi robusta masih mendominasi budidaya kopi di Buleleng. Pada tahun 2024, luas tanam kopi robusta mencapai 10.272 hektare dengan produksi 4.855 ton, sementara kopi arabika ditanam di lahan seluas 991,80 hektare dengan produksi 2.854 ton.

“Dominasi robusta memang masih kuat. Tapi peluang arabika seperti kopi gayo ini bisa dikembangkan sebagai alternatif yang menjanjikan,” demikian Melandrat. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #varietas #kubutambahan #kopi #petani #arabika #desa #jeruk #Tambakan #aceh #uji coba #kopi gayo #perkebunan #buleleng #ekonomi